Tag Archives: Sufi

MEMILIKI DIRI-NYA

textgram_1537238376

Manusia terlahir dengan  mempunyai keinginan untuk memiliki, dari yang termudah hingga yang tersulit untuk dijangkau. Keinginan yang tercapai bukannya berhenti, malah menimbulkan berbagai keinginan. Dalam pandangan Allah SWT, hamba yang dipenuhi keinginan-keinginan materi semata, merupakan hamba yang  menjadikan dirinya terlantar ,” miskin,” yang sebenarnya.

Saudaraku, Allah SWT tidak pernah melarang untuk berkeinginan dan memiliki sesuatu yang ada didunia ini, kecuali cara dan sesuatu tersebut berasal dari hal yang haram. Dan tidak satupun dalam sejarah Nabi dan Rasulullah anti terhadap “keinginan” untuk memiliki dunia ini.

Namun disayangkan, rasa kepemilikan terhadap dunia ini lebih mendominasi hati kita daripada rasa memiliki Tuhan. Sadar atau disadari, Allah SWT merupakan Zat mutlak yang berhak atas kepemilikan diri kita, sebaliknya diri kita  mesti hidup dalam merasakan memiliki Allah SWT, sebagai satu-satunya Zat Tuhan di jagad raya ini.

Saudaraku, hamba yang menghidupkan rasa memiliki Allah SWT, adalah hamba yang paling tenang dan nyaman menikmati kehidupan ini. Tidak satupun ketakutan dan kekuatiran yang tumbuh dalam hatinya, karena segala sesuatu yang datang dan pergi dari dirinya tidak dapat mengalahkan perasaan,” Aku masih memiliki Allah SWT,” untung dan rugi, sakit dan senang tidak mempengaruhi apalagi mengurangi ,”Kekayaan hatinya tersebut,”

Akuilah, memiliki apapun didunia ini mesti akan habis dan punah, seberapapun banyaknya yang kita simpan. Hanya satu,” Harta,” yang tak pernah habis dan punah, yakni Allah SWT. Maka segeralah kayakan hatimu dengan rasa yang memiliki Allah SWT. Dan percayalah, tak satupun harta didunia ini yang membuat dirimu sakit dan kecewa.

Saudaraku, mari tumbuh dan besarkan hati yang merasa memiliki Allah SWT, melebihi dari rasa kepemilikan materi, hingga kelapangan hatimu tak terbatas, membuat wajahmu selalu tersenyum dan tindakanmu selalu bijak dihadapan manusia. Dan sungguh hamba yang paling kaya dihadapan Allah SWT adalah hamba yang hatinya selalu merasa dimiliki dan memiliki Allah SWT.

Hanya hati yang merasa dimiliki dan memiliki Allah SWT saja yang tak pernah bergeming dengan kerugian dan kesakitan atas kehilangan segala materi didunia ini. Dan sesungguhnya, sia-sialah rukuk dan sujud si hamba, jika sekedar melahirkan penyembahan semata, tanpa menimbulkan rasa memiliki Tuhan. Padahal tujuan utama dari suatu penyembahan adalah melatih jiwa hidup dengan hati yang selalu dimiliki dan memiliki Tuhan.

Maka menjadi  suatu prestasi yang patut disyukuri, bila seorang hamba telah mendominasikan rasa memiliki Allah SWT didalam dirinya, dengan melalui itulah ia akan menjadi hamba yang sebenarnya disisi Allah SWT.

Berdo’alah,” Ya…Allah…Ya…Rabbi..,jadikanlah kami hamba-hamba yang memiliki hati yang selalu terjaga dalam rasa dimiliki dan memilikiMu, dan peliharalah kami dari rasa kepemilikan terhadap selain dirimu, dan jadikanlah hati kami singgasana rasa,  merasai akan diriMu sajalah milik kami yang sejati…Allah.

KEDEKATAN YANG MENGASYIKKAN

Sesungguhnya kedekatan Allah SWT tidak dapat diukur dengan alat apapun di dunia ini, bahkan kata “Dekat” itu sendiri tak dapat mengungkap arti kedekatan sebenarnya. DekatNya Allah SWT terhadap hambaNya adalah kedekatan yang tidak berjarak dan tidak berperantara, hingga tiada sesuatu di dunia ini yang menandingi keindahan dari kedekatanNya tersebut.

            Saudaraku, KedekatanNya tak dapat didektesi dengan mata dan akalmu, ia dapat disentuh dengan hati yang “ hidup “ dengan rasa yang asyik bersamaNya. Hanya hati yang asyik adalah hati yang telah menemukan wajah dirinya, yakni melepaskan segala ketergantungan kecuali kepada Allah SWT. Sebab, ketergantungan kepadaNya merupakan sifat dasar yang wajib dimiliki hati hamba.

            Mari selaraskan gerakkan  jiwa dan ragamu dengan gerakkan hati yang bergantung hanya kepada Allah SWT, agar segala tindakan dan perbuatan kita selalu bersentuhan dengan keridhoanNya. Jadikanlah dirimu menikmati segala permasalahan dengan hati yang asyik bersamaNya. Hati yang telah ”asyik” selalu dapat menerima segala kemungkinan yang terburuk di dunia ini.

            Saudaraku, jadikanlah hatimu bersih dan suci dari segala harapan, kecuali berharap hanya kepada Zat Allah SWT. Seseorang hamba yang telah mengembalikan hatinya hanya berharap dan bergantung kepada Tuhannya, maka sekali lagi dipastikan dia akan menikmati segala hal yang datang, sebab ia telah asyik menyaksikan wajah Allah SWT di balik setiap yang datang dan yang pergi dari dirinya.

              Saudaraku, sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyembunyikan diriNya daripada kita, DIA setiap saat selalu memberi isyarat akan kehadiranNya dekat dengan diri kita. Namun, lantaran hati kita masih dipenuhi dengan berharap kepada yang lain, hingga  isyaratNya yang begitu jelas dan nyata tidak “terbaca” di depan kita.

Berdo’alah,” Ya..Allah..,Ya..Rabbi, jadikanlah kami hamba yang selalu bergantung kepadaMu, hingga hati kami asyik dalam kedekatanMu, dan peliharalah hati kami dengan rasa rindu kepadaMu, dan dampingilah setiap niat dan usaha kami dengan berharap dan bercita-cita kepadaMu, serta sadarkanlah kami, bahwasanya Engkaulah satu satunya Zat yang paling dekat, hingga kedekatanMu melebihi dari apa apa yang dirasa oleh hati kami sendiri..Ya Allah…hanya Engkaulah yang mengasyikan hati hambaMu..

DO’A DAN KETERGANTUNGAN DIRI

Saudaraku, kita merupakan makhluk yang didatangi silih berganti permasalahan, dari yang terkecil hingga katanya,” yang terbesar,”. Sebagian kita menganggap permasalahan merupakan ujian, dan sebagian lainnya berpendapat masalah adalah kesuksesan yang terselebung, bahkan seseorang menilai permasalahan atau problem tersebut adalah bagian kemurkaan  Allah SWT, disebabkan dosa serta kesalahan masa lalu.

            Saudaraku, lepas dari semua pendapat diatas, diakui kita ini adalah makhluk yang selalu mengedepankan ,”kepintaran dan kekuatan,” diri sendiri, bahkan kita lebih sering mengandalkan diri dan materi untuk menantang segala problem. Tidak jarang Tuhan menjadi pelengkap ibadah, serta ,” dipakai,” hanya diposisi yang amat terdesak dalam permasalahan tersebut.

            Saudaraku, inilah akibat bila kebesaran Allah SWT cuma sebatas bibir dan lidah, keagungan Tuhan hanya menjadi sekedar bahan mentah dalam dzikir, sehingga tak jarang diantara kita menjadikan Allah SWT sebagai pelarian terakhir dari problem-problem kita.

            Saudaraku, Allah SWT bukanlah senjata terakhir dalam setiap problem hidupmu. Jadikanlah DIA sebagai Zat pertama yang wajib engkau datangi bila ditimpa masalah, karena sesungguhnya Allah SWT memandang kehambaan diri kita kepadaNya melalui seberapa sering dan utamanya kita mengadu dan meminta kepada DIA. Ketergantungan seperti ini yang akan bertransformasi menjadi sebuah senjata mutakhir menciptakan kejutan-kejutan cerita indah di belakang permasalahanmu.

            Saudaraku, do’a janganlah menjadi hal terakhir dalam setiap problemmu. Jadikanlah do’a sebagai hal yang pertama dilakukan bila ketemu permasalahan, sebesar atau sekecil apa saja  permasalahan tersebut, sekalipun  matamu hanya kelilipan debu dijalanan ! Wahai saudara, Inilah kesempatan untuk membuktikan ketergantunganmu yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT, semakin sering engkau berdo’a maka semakin muncul rasa kebutuhanmu terhadap Allah SWT, kebutuhan tersebut akan melahirkan bathin yang selalu rapat dan hanya bergantung kepadaNya. Niscaya akan merubah keluh kesahmu menjadi sekulum senyum manis bibirmu, malah suatu ketika  engkau pasti akan berterima kasih kepada setiap problem yang pernah datang kepadamu.

            Saudaraku, bila engkau masih percaya akan kebesaran dan keagungan Allah SWT, mari kedepankan Allah disetiap do’amu dalam usaha penyelesaian problem dunia ini. Yakinlah, Tuhanmu kelak akan meletakkan segala problem dibelakang keluh kesahmu, bahkan  kata ,” susah, sakit dan derita” hilang dari kamus bahasa jiwamu.

            Berdo’alah…!,Ya Allah…Ya Rabbi.., Bimbinglah kelemahan kami kepada kekuatanMu, dan bimbinglah kebodohan kami kepada pengetahuanMu, dan jadikanlah permasalahan kami merupakan anak tangga menuju pintu pemahaman akan kebesaran dan keagunganMu, dan jadikanlah permasalahan adalah kesempatan  kami untuk lebih merapat kepada diriMu, hingga keluh kesah kami hilang dalam  daya tarik cintaMu Wahai yang Zat Maha Suci…Al fatiha !