Tag Archives: Sufi

Hakikat Ibadah

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. [QS. Adz Dzariyat: 56]

Berdasarkan ayat di atas, tujuan Allah mencipta jin dan manusia hanya untuk mengabdi dan menyembah kepadanya. Tugas ibadah ini berlaku hanya pada keduanya, karena Allah Swt telah melengkapi mereka dengan fasilitas untuk mengenal diri-Nya berupa hati nurani. Awal dari sebuah pengabdian adalah pengenalan kepada Allah atau ma’rifatullah. Mengenal Allah berawal dari pengetahuan tentang tanda-tanda-Nya berupa nama, sifat, dan perbuatannya. Semua itu diperoleh melalui akal logika yang mengangkap informasi dari ayat kauniyah dan qauliyah. Pengetahuan seperti ini bisa dimiliki oleh setiap orang, baik Muslim maupun non Muslim. Pengenalan seperti merupakan pengenalan awal kepada Allah. Karena mengandalkan ingatan, penenalan macam ini mudah lupa sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap prilaku manusia. Oleh karena akal hanya mampu mengenal dan menjangkau tanda-tanda Allah sebagai tuhan, maka dengan kasih sayangnya manusia dan jin diberi fasilitas khusus yang bernama nurani untuk mengenal-Nya dengan pengenalan yang sesungguhnya.

Selanjutnya, dengan nurani itulah manusia dapat melaksanakan maksud dari penciptaan dirinya untuk mengabdi dan menghamba kepada Allah. Pengabdian seperti apa yang dituntut Allah atas diri manusia? Apakah hanya terbatas hanya pada ibadah-ibadah ritual khusus yang telah dicontohkan oleh kekasih-Nya Muhammad Saw? Menurut Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah, ibadah seperti tidak lebih baik dibandingkan dengan ibadah orang-orang jahiliyah dulu, karena pengabdiannya hanya pada waktu dan ruang tertentu saja. Padahal, perintah untuk mengabdi kepada Allah merupakan perintah yang sifatnya umum. Artinya, selama manusia itu hidup maka keseluruhan hidupnya harus dijadikan sebagai pengabdian kepada Allah. Menurutnya, hakikat ibadah adalah terwujudnya perasaan yang senantiasa bersama dengan Allah. Merasakan kehadiran Allah sebelum melakukan sesuatu. Itulah sebenarnya rahasia mengapa Rasulullah Saw mengingatkan bahwa “setiap sesuatu yang dilakukan tanpa diawali dengan basmalah maka akan terputus”.  Artinya, terputus dari proses pengabdian dan ibadahnya kepada Allah.

Menjadikan hidup sebagai totalitas ibadah kepada Allah berarti menjadikan Allah sebagai tempat bergantung ketika melakukan sesuatu di dunia ini. Sebelum melakukan sesuatu, seorang hamba harus merasakan Allah yang senantiasa bersama dirinya. Ia mesti merasakan kasih sayang Allah yang melimpah pada dirinya berupa daya dan segala fasilitas dari-Nya untuk berbuat sesuatu.