Category Archives: Tafakkur

DI BALIK NAMA-NYA

Tuhan merupakan kata yang mewakili kekuasaan yang Maha tak terbatas, tidak satupun kekuatan dan kekuasaan yang diluar kendaliNya. Ketika kita telah menyatakan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, maka Allah telah menjadi Nama yang kita yakini sebagai satu-satunya Tuhan di dunia, selainNya adalah abdi atau hamba.

Saudaraku, sejauh manakah kita dapat menjadikan kata,”Allah,” tersebut mewakili rasa dan perasaan akan kenyataan ke-TuhananNya. Tidak jarang diantara kita yang menyebut,” Allah,” sekedar sebatas nama, tanpa merasakan apapun dibalik nama tersebut. Padahal amat penting bagi kita untuk memahami Kebesaran dan Keagungan Allah SWT dalam setiap penyebutanNya.

Seseorang yang menyebut SBY saja, maka akan terbayang bagi dia segala pangkat dan jabatannya sebagai Presiden Republik ini. Sungguh kerdil diri kita, yang menyebut,” Allah SWT,” tanpa sedikitpun bergetar hati dengan rasa akan segala UNLIMITED POWER-Nya. Nama bukan saja mewakili identitas diri, tapi juga mewakili sebuah kepemilikan dan kekuasaan atas sesuatu yang dimiliki dari sesosok yang bernama tersebut.

Saudaraku, ketika pedang Datsur menempel dileher Baginda Rasulullah SAW, beliau ditanya,” Siapakah yang sanggup pada hari ini menolong engkau ya Muhammad..,” Baginda dengan tegas menjawab,” Allah..!,”.Pedang terjatuh, kedua kaki dan hatinya Datsur tersungkur dalam kalimah syahadat. Inilah gambaran yang luar biasa dari implementasi rasa hati Baginda Rasulullah SAW terhadap kebesaran dan keagungan Tuhan dalam nama,” Allah ,”

Saudaraku, diantara kita masih banyak yang,” membatasi ,” kekuasaan Allah SWT dalam caranya berfikir terhadap penafsiran makna ke-Tuhanan. Kita merasa cukup puas dengan menyebut nama tanpa memahami sepenuhnya kebesaran nama tersebut. Kenyataannya, hari ini tak terhitung umat yang haus akan pengetahuan tentang Tuhan dan berlomba-lomba mencari jalan yang terdekat untuk sampai kepada Allah SWT. Bahkan yang paling menyedihkan kehausan mereka akan Allah SWT dimanfaatkan oleh segelintir orang-orang  serakah yang berkedok agama.

Saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu,” Allah..,” dengan mata hati yang terbuka merasakan kenyataan Allah SWT melebihi dari kenyataan apapun termasuk dirimu , dan rasakanlah ke-Maha-anNya  didalam segala sesuatu, dengan menghidupkan rasa kehambaan penuh kebudakkan dihadapan Allah SWT. Serta mendominasikan ketidak berdayaan diri disetiap kata dan perbuatan didepan ketentuanNya. Jadikanlah hatimu tempat lewat pendengaran dan penglihatan, bahkan kata-katamu sendiri harus melewati hati sebelum ia keluar dari mulutmu.

Akhirnya, sebutlah,” Ya…Allah, Ya…Rabbi, cukuplah Engkau bagiku, hanya Engkau jaminan HidupKu dan biarkanlah aku meneguk pengetahuan akan kebesaran serta kenyataanMu melebihi dari segala pemahaman atas diriku sendiri. Dan ajarkanlah aku menyebut NamaMu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki atasnya, dan larutkanlah pemahamanan ke-Tuhananmu atas diriku didalam setiap namaMu yang kusebut…Allah.

Beserta diriNya

Bismillahirahmanirahim…, Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Kalimat ini sering kita ucapkan, paling tidak sebelum makan dan minum. Terlepas apakah itu sekedar kebiasaan ataupun memang hanya sebagai penambah nikmat untuk makan dan minum, kita adalah makhluk yang selalu lupa untuk menyadari kebersamaan denganNya. Dan kita telah mengetahui, basmalah adalah kalimat yang mesti kita ucapkan dalam setiap tindakan dan perbuatan. Namun hingga hari ini, sejauh mana hati kita menyertakan Allah SWT dalam penyebutan kalimat tersebut ? Apakah hanya sebatas “Garis start” untuk memulai segala tindakan ? Atau menjadikan kalimah Basmalah sebagai kalimah “Sakti” untuk mendongkrak sugesti dan keyakinan dalam berbuat dan memutuskan ?

Saudaraku, penyebutan Basmalah merupakan awal bagi diri seorang hamba untuk menyadari, bahwasanya Allah SWT selalu dekat, mengetahui dan memahami apa-apa yang dikerjakannya. Kalimat tersebut adalah sandaran hatinya, untuk menjadikan Tuhannya sebagai pendamping yang paling dekat dalam segala perbuatannya.

Sertakanlah Allah SWT disetiap gerak gerikmu, dan jadikanlah basmalah sebagai pembuka hatimu akan kenyataan Allah SWT bersamamu. Jika gerak dan perbuatan sangat dekat dengan dirimu, maka kebersamaan Allah SWT pasti amat dekat lagi dengan dirimu. Jadikanlah kebersamaan dengan Allah SWT lebih mendahului segala gerak dan perbuataanmu, niscaya engkau akan diselamatkan Allah SWT dari segala gerak dan perbuatan sesuatu yang akan mencelakaimu.

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

Saudaraku, hamba yang mengucapkan Basmalah, adalah hamba yang telah menjadikan Allah SWT tujuan dari segala tujuan, karena kalimah tersebut bukan sekedar mengajarkan hati untuk selalu ingat kepadaNya, melainkan juga untuk mengembalikan kesadaran hati hamba “ darimana ia bermula dan akan kemana ia berakhir”. Dan pastinya, seseorang yang sadar dengan itu, ia akan menjaga sikap dan perbutaannya dalam mencapai segala hal di dunia ini.

Saudaraku, jadikanlah Basmalah adalah kalimah yang pertama sekali engkau ucapkan sebelum kalimah lain, dan jadikanlah basmalah kalimah yang hidup dalam setiap gerak dan gerikmu dengan merasai Allah SWT amat dekat, melebihi kedekatan perbuatanmu dengan dirimu sendiri.

 Sesungguhnya hamba-hamba yang menjadikan Basmalah sebagai pemicu hatinya untuk merasakan Allah SWT sebagai Zat paling dekat dengan dirinya, maka hamba tersebut telah meletakkan dirinya kedalam tangan Allah SWT, sehingga energy dan kekuatan yang diucapkan dan apa-apa yang diperbuatnya adalah berasal daripada Allah SWT sendiri.

Dan memintalah,” Ya…Allah..Ya Rabbi, jadikanlah diri kami hamba-hamba yang membuat dirimu senang dan ridho kepada kami, dan ajarkan kepada hati kami segala pengetahuan yang membuat kami takjub terhadap diriMu, dan bimbinglah kami kepada gerak dan gerik yang selalu mendahului keinginanMu daripada keinginan hawa nafsu kami, dan bentuklah diri dan jiwa kami dengan tanganMu dan tarbiyahMu, agar kami hidup dalam segala keinginanMU..Ya Allah.

Kedekatan yang Mengasyikan

TuangkuSyaikhTuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

Sesungguhnya kedekatan Allah SWT tidak dapat diukur dengan alat apapun di dunia ini, bahkan kata “Dekat” itu sendiri tak dapat mengungkap arti kedekatan sebenarnya. DekatNya Allah SWT terhadap hambaNya adalah kedekatan yang tidak berjarak dan tidak berperantara, hingga tiada sesuatu di dunia ini yang menandingi keindahan dari kedekatanNya tersebut.

Saudaraku, KedekatanNya tak dapat didektesi dengan mata dan akalmu, ia dapat disentuh dengan hati yang “ hidup “ dengan rasa yang asyik bersamaNya. Hanya hati yang asyik adalah hati yang telah menemukan wajah dirinya, yakni melepaskan segala ketergantungan kecuali kepada Allah SWT. Sebab, ketergantungan kepadaNya merupakan sifat dasar yang wajib dimiliki hati hamba.

Mari selaraskan gerakan jiwa dan ragamu dengan gerakan hati yang bergantung hanya kepada Allah SWT, agar segala tindakan dan perbuatan kita selalu bersentuhan dengan keridhoanNya. Jadikanlah dirimu menikmati segala permasalahan dengan hati yang asyik bersamaNya. Hati yang telah ”asyik” selalu dapat menerima segala kemungkinan yang terburuk di dunia ini.

Saudaraku, jadikanlah hatimu bersih dan suci dari segala harapan, kecuali berharap hanya kepada Zat Allah SWT. Seseorang hamba yang telah mengembalikan hatinya hanya berharap dan bergantung kepada Tuhannya, maka sekali lagi dipastikan dia akan menikmati segala hal yang datang, sebab ia telah asyik menyaksikan wajah Allah SWT dibalik setiap yang datang dan yang pergi dari dirinya.

Saudaraku, sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyembunyikan diriNya daripada kita, DIA setiap saat selalu memberi isyarat akan kehadiranNya dekat dengan diri kita. Namun, lantaran hati kita masih dipenuhi dengan berharap kepada yang lain, hingga isyaratNya yang begitu jelas dan nyata tidak “terbaca” didepan kita.

Berdo’alah: ”Ya Allah, Ya Rabbi, jadikanlah kami hamba yang selalu bergantung kepada-Mu, hingga hati kami asyik dalam kedekatan-Mu, dan peliharalah hati kami dengan rasa rindu kepada-Mu, dan dampingilah setiap niat dan usaha kami dengan berharap dan bercita-cita kepada-Mu, serta sadarkanlah kami, bahwasanya Engkaulah satu satunya Zat yang paling dekat, hingga kedekatan-Mu melebihi dari apa apa yang dirasa oleh hati kami sendiri. Ya Allah, hanya Engkaulah yang mengasyikan hati hamba-Mu”