Pengorbanan

Suatu ketika, di atas bukit di sebuah gubuk kayu yang hanya berdindingkan terpal dan beralaskan ilalang, ranting dan daun-daun yang ditutupi dengan terpal juga sekedar untuk mendapatkan nuansa empuk, atapnya hanya terbuat dari rangkaian daun kelapa yang disusun, di atas bukit yang sepi dan diterangi hanya oleh sebuah lampu petromak, langit cerah bertabur bintang mengisyaratkan ciptaan illahi yang maha dahsyat, memandang kerlipan bintang sunguh dahsyat gemuruh rasa untuk sedikit sadar bahwa kicil insan ini terhadap ke ESAan Rabb nya, tiada yang tau rahasia di langit dan di bumi kecuali Rabb nya bahkan di dalam diri insan sendiri.

Dari jauh terlihatlah pantai Sumatera Barat dengan kerlap-kelip lampu nelayan yang sedang berharap mendapat rezki illahi untuk dibawa ke keluarga tercinta. Dinginya angin malam dan gelombang laut tentu sudah merupakan pertaruhan sendiri bagi mereka, mungkin tidak jauh beda dengan insan yang sehari-hari berdesak-desakan dan bergelut dengan debu dan hiruk pikuk ibu kota, mempertaruhkan fisik di jalanan Ibukota, bahkan terkadang menegangkan urat leher demi bisa pulang ke rumah untuk sekedar beristirahat. Di atas bukit dari sisi yang lain sesekali terlihat kereta api pengangkut batubara dan semen hilir mudik, sayup-sayup suara kereta memecah keheningan malam melewati pematang sawah dan perkampungan dengan penduduk yang sudah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing tentang hari esok.
Syaikh Muhammad Jailani Abrar sedang duduk bersama murid beliau, kemudian Syaikh Muhammad Jailani Abrar melihat ke arah lampu petromak beliau mengamati laron-laron yang berebut untuk masuk ke dalam kaca lampu tersebut kemudian beliau berkata kepada murid beliau “Lihatlah… jadilah seperti laron ini, mereka rela mati dan terbakar oleh panasnya demi mendapatkan cahaya”.