Tag Archives: Sufi

APA ITU MURSYID?

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

textgram_1525454716

Sebagaimana sebuah lembaga pendidikan, Thariqah memiliki Guru atau pelatih yang disebut sebagai Mursyid, seseorang yang telah diamanahkan oleh Allah SWT melalui garis keturunan atau nasab dan sanad yang tersambung sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemursyidan bukanlah sebuah jabatan karir yang dapat diraih dengan usaha atau kerja keras. Kemursyidan merupakan pemberian dan amanah Allah SWT kepada orang-orang yang sudah digariskan melalui nasab yang mulia. Setetes darah yang mengalir di dalam tubuhnya merupakan sebuah ketentuan Allah Ta’ala. Ia tidak dapat “dipesan” oleh yang punya diri, namun tidak semua yang memiliki nasab mulia yang dapat amanah menjadi mursyid. Ia seumpama emas yang tersimpan dalam batu, jika ia tidak diambil dari kedalaman perut bumi kemudian diolah dan ditempa menjadi emas yang berkilau, maka mustahil seseorang yang bernasab mulia akan diberikan amanah untuk menjadi seorang Mursyid. Tidak sedikit juga di antara pengamal Thariqah berlomba-lomba untuk menjadi Mursyid, lantaran berharap orang-orang sekitarnya memuliakan dirinya. Sesungguhnya kemuliaan datang bukan dari makhluk namun ia datang dari kehendak Allah SWT. Maka, adalah contoh sebuah penyimpangan bathin yang terburuk jika seseorang mempunyai sifat sifat tersebut. “Emas” yang masih dalam perut bumi hanya dapat diambil oleh orang ahli dalam “penambangan” spiritual, karena tanpa itu sebaik baik apapun “emas” tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang bernilai, sebab masih dibalut batu dan terpendam dalam perut bumi. Maka dengan menggunakan perkakas spritual, seorang mursyid akan melahirkan seribu mursyid baik dengan jalan bertemu langsung atau tidak, bahkan cukup hanya bersentuhan secara spiritual yang kuat dan terus menerus. Maka,  apabila proses “penambangan” itu berhasil menemukan dan membentuk “emas kemursyidan” maka seluruh “penambang” atau mursyid-mursyid yang sezaman akan mengetahui dan mengakui kadar emas kemursyidan tersebut tanpa mesti bukti hitam putih dari sehelai kertas ijazah.

TERBANGUN DALAM BERMIMPI

Setiap hamba di dunia akan mengakui segala keterbatasan dan kelemahan dirinya, paling tidak jika ia telah bertemu jalan “buntu” dunia ini. Segala sesuatu yang dibanggakannya tidak berkutik lagi ketika berhadapan dengan dinding takdir, dan segala yang diburu karena “nilai dan harga” akan menjadi barang rongsokan yang tidak menggigit lagi. Begitu mudah bagi Allah SWT untuk mempertontonkan kebesaranNya, hingga sesuatu yang didewakan, dalam hitungan menit menjadi barang tak ada arti.

Saudaraku, bagi Allah SWT hanyalah kita sesuatu yang berharga dihadapanNya, bahkan segala sesuatu yang diciptakan merupakan fasilitas  kenyamanan  untuk kita dalam kehidupan ini. Tidak sebutir debupun yang Allah SWT ciptakan yang tidak bermanfaat bagi kita, dan tidak satupun ciptaanNya menjadi sia-sia tak ada manfaat bagi manusia.

Suatu hal aneh sebenarnya, bila kita mau berfikir, kenapa matahari sebegitu besar berada pada posisi dan jaraknya yang tepat untuk menerangi bumi. Dan mengapa bumi yang hanya satu diantara jutaan bintang, yang memiliki komposisi tepat untuk dapat dihuni makhluk hidup, hingga udaranya pun memiliki kadar oksigen yang tepat untuk dihirupi. Begitu rapi dan indah kerja “ tanganNya”.

Saudaraku, semua yang ada, semua yang duduk pada posisinya dan semua yang bergerak pada garisnya masing-masing, hanya memiliki pada satu tujuan, seakan-akan dari partikel-partikel yang terkecil hingga matahari yang terbesar tertuju “matanya” kepada satu makhluk, yakni kita.

Saudaraku, Kita adalah destinasi bagi alam semesta ini, dan Allah SWT merupakan destinasi diri kita, segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tidakkah hidup, mati dan ibadah kita untuk Allah SWT, namun bukan berarti Allah SWT butuh eksistensi hambaNya, malah sebaliknya hamba selalu butuh Allah SWT, hingga ia haus untuk merasakan eksistensi Allah, walau hanya dalam rasa. Karena kepuasan hati tak akan pernah ada bila tak bersentuhan dengan Tuhannya. Dan jika kepuasan hati hilang dari dada si hamba, maka bersiaplah ia terbangun daripada dunia ini, lalu menjalani kenyataan yang lebih buruk dari segala mimpi terburuknya.

Saudaraku, waktu serta perangkat dunia yang Allah SWT sediakan, bukan alat pijat pelepas lelah atau mainan untuk membuai jiwa kita, tapi hadir sebagai perangkat atau program latihan diri, menempa hati dan jiwa menjadi “dewasa” dihadapan Allah SWT. Berfikir tidak sebatas materi, tapi jauh menjangkau waktu dan ruang, serta hidupkan kesadaran sejati dengan merubah wajah dunia ini menjadi sekedar mimpi dan bunga tidur, yang kelak Tuhan akan bangunkan kita di Alam “yang sebenarnya” bersama DiriNya.

Ya Allah…Ya Rahman..Ya Rahim..,peliharalah kami dalam tatapanMu, dan dekatkan kami kepada apa-apa yang Engkau cintai, serta dampingilah kami dengan hikmah-hikmah pengetahuanMu, agar kami menjadi orang-orang yang tersadar sebelum kami terbangun dalam mimpi yang Engkau ciptakan ini…Ya Allah wahai Zat yang Maha Tinggi.

NAFSU DAN HAK

Dunia begitu cantik dengan tatapan mata, manis dengan sentuhan lidah serta wangi dengan ciuman hidung si hamba. Panggilan dunia menjadi nada-nada yang membuai jiwa, hingga pergantian siang dan malam tak terhitung lagi. Semua yang disuguhi dunia begitu nikmat dan serasa nyata, menghilangkan kecurigaan hati terhadap racun yang dikandungnya.

            Saudaraku, mencari bukanlah berarti untuk memiliki, walau ia sudah ditangan, karena perbedaan nafsu dan hak terletak diantara mencari dan memiliki. Hamba diberikan nafsu oleh Allah SWT untuk ia dapat berkeinginan dan berusaha untuk mencari apa yang dibutuhkan, namun jika sesuatu yang dicarinya telah berada digenggamannya, maka ia mesti memposisikan sesuatu tersebut sebagai barang pinjaman atau titipan Allah SWT.

            Ego dan kesombongan manusia tidak akan muncul, kecuali bila ia merasa apa yang dicari dan yang di cita-citai telah menjadi,” miliknya,”. Nafsu yang semula menjadi hewan tunggangan, berubah menjadi penunggang jiwanya. Oleh sebab itu Hak bukanlah,” sertifikat hak milik,” hamba terhadap sesuatu, namun sebatas,” sertifikat hak guna,” sebagai senjata ampuh untuk mencegah intervensi nafsu melalui,” rasa memiliki,”.

Saudaraku, rasa kepemilikan terhadap sesuatu yang ditangan, ibarat bom waktu yang mempunyai daya ledak untuk menghancurkan qalbu hingga berkeping-keping  dan tentunya sangat menyakitkan. Betapa tidak, jika seseorang yang hidupnya dipenuhi rasa kepemilikan terhadap segala sesuatu yang didapatinya, kelak mesti siap kehilangan sesuatu tersebut satu persatu, hingga mungkin akan lebih menyakitkan diri untuk memilikinya daripada tidak sama sekali.

Saudaraku, ,”Hak,” adalah,” kepemilikan,” untuk digunakan, bukan kepemilikan yang sebenarnya. Sebab, hanya orang-orang yang hidup dengan rasa dipinjami dan dititipi akan berjiwa amanah, sedangkan orang yang merasa,” memiliki,” lebih banyak lalai, bahkan melecehkan apa yang telah digenggamannya.

Saudaraku, seharusnya Nafsu berperan untuk menciptakan langkah-langkah didunia untuk mencari, sedangkan Hak adalah pengaman hati bila sesuatu tersebut ditemui, dan ingatlah Hak yang benar melahirkan perasaan diberi, dititipi sehingga menerbitkan sifat amanah. Yakinlah, Cukup hanya Zat Allah SWT yang berhak atas segala sesuatu yang ,”berhak,” di dunia ini.

Ya Allah…ya Rabbi..,jangan biarkan diri kami terlantar menjadi maling-maling atas hakMu dari segala kepemilikan dunia ini, dan hidupilah hati kami dengan nafas-nafas yang sadari akan segala pemberianMu, agar kami tetap berjalan lurus menuju ridhaMu, serta tertarik hanya memilikiMu saja agar hati ini tetap utuh dihadapanMu….Ya Allah Duhai kekasih yang Maha Tinggi….