Tag Archives: salik

“JANGAN MENDATANGI ALLAH KARENA KEINGINAN NAFSU!”

Para sufi mengingatkan bahwa untuk bermakrifat kepada Allah, tidak diperkenankan membawa keinginan (nafsu) diri sendiri. Bukankah untuk beribadah butuh yang namanya keinginan atau niat untuk beribadah! Apakah keinginan baik seperti shalat, puasa, infak, dan lainnya termasuk keinginan nafsu? Bagaimana mungkin melaksanakan suatu kewajiban/anjuran atau meninggalkan larangan Allah jika tidak disertai keinginan dan niat dari diri seorang hamba?

Di sini, perlu ditegaskan bahwa ungkapan seperti ini berlaku pada tataran hakikat, bukan pada tataran syariat. Dalam tataran syariat, Rasulullah Saw mengingatkan bahwa “Amal perbuatan itu didasarkan pada niatnya” (HR. Bukhari). Artinya, wajib hukumnya menerbitkan niat di dalam hati untuk suatu amal agar mendapatkan ridha Allah.  Dalam berniat, seorang Muslim memiliki bermacam-macam motivasi, antara lain agar mendapatkan pahala, mendapatkan surga, bebas dari neraka, mendapatkan ketenangan hidup, dan sebagainya. Motivasi niat macam ini meskipun tidak salah, namun bagi pada sufi, dianggap masih menyelipkan adanya tujuan lain selain ridha Allah. Untuk itu, perlu dimurnikan agar benar-benar beramal semata mencari ridha Allah.

Bagi sufi, ridha Allah hanya bisa diraih jika menemukan cinta mahabbatullah; dan mahabbatullah hanya mungkin diberikan bagi hamba yang telah menyaksikan mukasyafah. Untuk sampai pada maqam penyaksian, itu mustahil dapat diusahakan oleh seorang hamba, kecuali jika Allah berkenan untuk membukakan hijab baginya. Karena tidak ada seorang pun yang dengan niat dan usahanya dapat meraih penyaksian, maka ia harus berlepas diri dari mengandalkan keinginan niat dan usahanya itu.

“Sungguh tidaklah seorang hamba-Ku yang mampu mendatangi-Ku, jikalau ia masih menjeratkan lehernya kepada segala keinginan yang tersembunyi di balik “keakuan” dirinya” (Kalam Sirr Tuanku Muhammad Ali Hanafiah)

Lalu, bagaimana caranya mendatangi Allah tanpa mengandalkan keinginan niat dan usaha sendiri?

Menurut Tuanku Syekh Muhammad Ali Hanafiah, caranya adalah berniat dan berusaha atas dasar bimbingan dari seorang Mursyid. Seseorang yang telah berbaiat kepada seorang mursyid artinya ia telah menyerahkan diri dan urusan perjalanannya kepada Allah kepada Mursyid, dan Mursyid bertanggungjawab atas bimbingannya kepada muridnya di dunia dan akhirat. Jadi, melepaskan keinginan diri menuju Allah artinya melakukan suatu amalan berdasarkan bimbingan dari Mursyid. Di sinilah seorang murid menempatkan dirinya laiknya mayat di tangan Mursyidnya. Tentu saja, bimbingan seorang Mursyid tidak boleh keluar dari batasan syariat yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Tuanku mengingatkan bahwa niat dan usaha yang sungguh-sungguh harus dimiliki oleh seorang salik untuk menemukan dirinya dalam maqam hamba. Sebab, ciri-ciri seseorang itu disebut hamba adalah:

  1. Senantiasa berdoa meminta kepada Allah;
  2. Belajar sepanjang hayatnya;
  3. Berusaha maksimal yang disertai perasaan harapdan bersandar kepada Allah;
  4. Menyadari sepenuhnya bahwa apa pun yang terjadi itu merupakan ketentuan dan takdir Allah.

“Dalam menempu perjalanan kepada Allah, niat mencari ridha Allah harus terus dijaga. Sebab, dengan niat itulah Allah akan menjaga dan menuntun yang bersangkutan. Boleh jadi, dalam perjalanannya dia sempat tersesat namun yakinlah bahwa Allah pasti akan menyelamatkannya,” lanjut Tuanku.

Seorang salik juga harus sabar tanpa ada keinginan yang buru-buru ingin sampai kepada tujuannya. Sebab, keinginan seperti itu, kata Ibnu Athaillah, termasuk bagian dorongan nafsu syahwat.

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ

“Keinginanmu untuk berada pada tajrid (suasana terlepas dari ikatan sebab), padahal Allah sedang menempatkan kamu pada ikatan sebab, merupakan bentuk syahwat yang sangat halus” (Hikam Ibnu ‘Athaillah)

Yang dimaksud ‘sebab’ di sini adalah mengandalkan niat dan usaha. Kalau memang Allah belum mengijinkan untuk sampai pada suasana terlepas dari ikatan sebab maka tetaplah bersabar sembari berharap dan bersandar selalu kepada Allah. Ibnu Athaillah menasihatkan:

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

“Istirahatkan dirimu dari nafsu untuk mengatur sesuatu, karena sesuatu yang diatur oleh selain kamu tidak perlu dicampuri” (Hikam Ibnu ‘Athaillah)

Allah adalah zat yang mengatur segala sesuatu, termasuk mengatur perjalanan seorang salik menuju kepada-Nya. Karena itulah, serahkan proses itu kepada Allah. Salah satu bentuk penyerahan diri kepada Allah, menurut Tuanku, adalah mengikuti bimbingan Mursyid. Karena, pada hakikatnya, bimbingan seorang Mursyid adalah bimbingan Allah yang disalurkan melalui diri seorang mursyid kepada hamba-Nya.

Harapan dan sandaran kepada Allah harus terus dijaga dan hendaknya menyertai semua niat dan usaha kepada-Nya. Harapan dan sandaran bukan berarti diam menunggu takdir, melainkan harus disertai dengan usaha yang maksimal. Ibnu Athaillah

الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ ، وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَةٌ
“Yang disebut raja’ atau harapan kepada Allah jika disertai dengan usaha perbuatan, jika tidak maka ia tak lebih dari sekadar hayalan (Hikam Ibnu ‘Athaillah).

Sebagai salik, petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah harus tetap didahulukan. Mendahulukan hal-hal yang prioritas dari yang kurang dan tidak prioritas. Mendahulukan kewajiban melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan daripada mengerjakan hal-hal sunnah atau meninggalkan hal makruh. Mendahulukan amalan sunnah yang dicontohkan Rasulullah Saw daripada latihan riyadhah yang diajarkan oleh Mursyid. Terkait dengan hal ini, Ibnu Athaillah mengingatkan:

مِنْ عَلاَمَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ ، وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ

Salah satu tanda memperturutkan keinginan hawa nafsu adalah bersemangat mengerjakan hal-hal sunnat tetapi malas mengerjakan hal yang diwajibkan Allah (Hikam Ibnu ‘Athaillah).

Wallahu a’lam[ZA]

Bagaimana Langkah Menuju Tuhan?

Dapatkah kita berjumpa dengan Allah?

Oleh: Zubair Ahmad

           Pertanyaan ini menjadi penting karena sebagaimana kita ketahui bahwa Allah itu laitsa kmitslihi syai’un (tidak ada yang serupa denganNya). Manusia yang terdiri dari jamani dan ruhani ternyata berbeda dengan zat Allah, Allah adalah tuhan sedangkan manusia adalah makhluk. Mana mungkin zat yang berbeda dapat berjumpa!

Continue reading Bagaimana Langkah Menuju Tuhan?