Tag Archives: Ihsan

MUHASABAH DIRI (Bagian 2/2)

Oleh Zubair Ahmad

Introspeksi diri juga dapat dilakukan dengan menyelami dan mengenali Allah dengan sifat-sifat-Nya. Kenalilah siapa tuhanmu agar kamu dapat menjadi pemenang. Pemenang yang berhasil menundukkan ego dan hawa nafsunya. Pengetahuan tentang tuhanmu jangan hanya berhenti pada pemahaman akalmu semata, karena akan mudah membuat kamu lupa padanya. Temukanlah keberadaan dan keyataan-Nya melalui rasa pada hatimu. Hanya dengan merasakan keberadaan-Nya hidupmu akan tertuntun.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِۖ هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [QS. Al Hasyr,59/22]. Continue reading MUHASABAH DIRI (Bagian 2/2)

Muhasabah Diri (Bagian I/2)

Oleh Zubair Ahmad*

Muhasabah berarti menghitung-hitung atau menimbang-nimbang antara dua hal yang saling bertentangan, antara kualitas kebaikan dan keburukan, keberhasilan dan kegagalan, untung dan rugi, dan sebagainya.  Hitung-hitungan tersebut biasanya dikaitkan dengan kurun waktu atau periode tertentu. Umumnya, di akhir tahun para pengusaha secara akuntansi mengenal istilah tutup buku. Mereka mengukur tingkat keberhasilan usahanya dan untung-ruginya. Lembaga pemerintah maupun swasta pun melakukan tutup buku, untuk melihat hasil pencapaian selama kurun waktu tertentu. Semua itu dilakukan untuk dijadikan pijakan untuk menutupi berbagai kekurangan yang menyebabkan sebuah kegagalan agar tidak terulang pada masa mendatang. Begitu pula faktor-faktor keberhasilan masa sebelumnya dipelajari sehingga dapat ditingkatkan dan dimaksimalkan pada periode berikutnya.

Dalam kaitannya dengan perjalanan ruhani umat manusia, alam syahadah atau alam dunia ini merupakan alam ketiga sebelum alam barzah dan alam akhirat saat kembali kepada Allah. Alam dunia pun dapat dibagi-bagi menjadi masa kecil, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Masing-masing masa tersebut juga masih dapat dipotong-potong menjadi tahun, bulan, minggu, hari, hingga detik. Seperti halnya dengan para pengusaha dan teknokrat, akhir tahun merupakan waktu yang tepat untuk melakukan hitung-hitungan untuk mengukur dan menimbang kualitas pelaksanaan tugas sebagai hamba yang memikul tugas khalifah. Continue reading Muhasabah Diri (Bagian I/2)

TERBANGUN DALAM BERMIMPI

Setiap hamba di dunia akan mengakui segala keterbatasan dan kelemahan dirinya, paling tidak jika ia telah bertemu jalan “buntu” dunia ini. Segala sesuatu yang dibanggakannya tidak berkutik lagi ketika berhadapan dengan dinding takdir, dan segala yang diburu karena “nilai dan harga” akan menjadi barang rongsokan yang tidak menggigit lagi. Begitu mudah bagi Allah SWT untuk mempertontonkan kebesaranNya, hingga sesuatu yang didewakan, dalam hitungan menit menjadi barang tak ada arti.

Saudaraku, bagi Allah SWT hanyalah kita sesuatu yang berharga dihadapanNya, bahkan segala sesuatu yang diciptakan merupakan fasilitas  kenyamanan  untuk kita dalam kehidupan ini. Tidak sebutir debupun yang Allah SWT ciptakan yang tidak bermanfaat bagi kita, dan tidak satupun ciptaanNya menjadi sia-sia tak ada manfaat bagi manusia.

Suatu hal aneh sebenarnya, bila kita mau berfikir, kenapa matahari sebegitu besar berada pada posisi dan jaraknya yang tepat untuk menerangi bumi. Dan mengapa bumi yang hanya satu diantara jutaan bintang, yang memiliki komposisi tepat untuk dapat dihuni makhluk hidup, hingga udaranya pun memiliki kadar oksigen yang tepat untuk dihirupi. Begitu rapi dan indah kerja “ tanganNya”.

Saudaraku, semua yang ada, semua yang duduk pada posisinya dan semua yang bergerak pada garisnya masing-masing, hanya memiliki pada satu tujuan, seakan-akan dari partikel-partikel yang terkecil hingga matahari yang terbesar tertuju “matanya” kepada satu makhluk, yakni kita.

Saudaraku, Kita adalah destinasi bagi alam semesta ini, dan Allah SWT merupakan destinasi diri kita, segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tidakkah hidup, mati dan ibadah kita untuk Allah SWT, namun bukan berarti Allah SWT butuh eksistensi hambaNya, malah sebaliknya hamba selalu butuh Allah SWT, hingga ia haus untuk merasakan eksistensi Allah, walau hanya dalam rasa. Karena kepuasan hati tak akan pernah ada bila tak bersentuhan dengan Tuhannya. Dan jika kepuasan hati hilang dari dada si hamba, maka bersiaplah ia terbangun daripada dunia ini, lalu menjalani kenyataan yang lebih buruk dari segala mimpi terburuknya.

Saudaraku, waktu serta perangkat dunia yang Allah SWT sediakan, bukan alat pijat pelepas lelah atau mainan untuk membuai jiwa kita, tapi hadir sebagai perangkat atau program latihan diri, menempa hati dan jiwa menjadi “dewasa” dihadapan Allah SWT. Berfikir tidak sebatas materi, tapi jauh menjangkau waktu dan ruang, serta hidupkan kesadaran sejati dengan merubah wajah dunia ini menjadi sekedar mimpi dan bunga tidur, yang kelak Tuhan akan bangunkan kita di Alam “yang sebenarnya” bersama DiriNya.

Ya Allah…Ya Rahman..Ya Rahim..,peliharalah kami dalam tatapanMu, dan dekatkan kami kepada apa-apa yang Engkau cintai, serta dampingilah kami dengan hikmah-hikmah pengetahuanMu, agar kami menjadi orang-orang yang tersadar sebelum kami terbangun dalam mimpi yang Engkau ciptakan ini…Ya Allah wahai Zat yang Maha Tinggi.