Foto Pertemuan Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani Dengan Tokoh-Tokoh Agama Islam

TuangkuWithSyaikhHisyamPertemuan Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani Dengan Syaikh Hisyam Kabbani

TuangkuWithBambang

Pertemuan Khusus Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar  Rabbani Bersama Syaikh Hisyam Qabbani, Prof. Dr.H. M. Bambang Pranowo, MA, dan Bapak Hendro Martowardoyo

TuangkuWithGibriel

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar  Rabbani Bersama Syaikh Jibril Fu’ad Haddad
(Lokasi Paninggahan/ Tepian Danau Singkarak)
TuangkuWithGibriel2
Foto Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani Bersama 
Syaikh Jibril Fu’ad Haddad 
Di Ruang Tamu pondok Pesantren Tasawuf Rabbani 
TuangkuWithAliYafie

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar- Rabbani
bersama
KH. Ali Yafie dan Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar
TuangkuWithKakanwilDepag
Tuangku Syaikh Muhamad Ali Hanafiah Ar Rabbani Bersama Kakanwil Kementrian Agama Sumatera Barat Saat Mendampingi Wakil Menteri Agama RI saat mengunjungi Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani
di Solok Sumatera Barat
TuangkuWithNazaruddinUmar

Kunjungan Wakil Menteri Agama RI ke Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani
Beserta Kakanwil Kementrian Agama Sumatera Barat
TuangkuWithNazaruddinUmar2
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani
Bersama
Prof. DR. Nasaruddin Umar, MA (Wakil Menteri Agama RI)
TuangkuWithKomaruddinHidayat
Jakarta, di ruang Rektorat UIN Syarif Hidayatullah
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat berbai’at kepada
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani
TuangkuWithOpick
Kunjungan Opick Beserta Istri Ke Rumah
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Kedekatan yang Mengasyikan

TuangkuSyaikhTuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

Sesungguhnya kedekatan Allah SWT tidak dapat diukur dengan alat apapun di dunia ini, bahkan kata “Dekat” itu sendiri tak dapat mengungkap arti kedekatan sebenarnya. DekatNya Allah SWT terhadap hambaNya adalah kedekatan yang tidak berjarak dan tidak berperantara, hingga tiada sesuatu di dunia ini yang menandingi keindahan dari kedekatanNya tersebut.

Saudaraku, KedekatanNya tak dapat didektesi dengan mata dan akalmu, ia dapat disentuh dengan hati yang “ hidup “ dengan rasa yang asyik bersamaNya. Hanya hati yang asyik adalah hati yang telah menemukan wajah dirinya, yakni melepaskan segala ketergantungan kecuali kepada Allah SWT. Sebab, ketergantungan kepadaNya merupakan sifat dasar yang wajib dimiliki hati hamba.

Mari selaraskan gerakan jiwa dan ragamu dengan gerakan hati yang bergantung hanya kepada Allah SWT, agar segala tindakan dan perbuatan kita selalu bersentuhan dengan keridhoanNya. Jadikanlah dirimu menikmati segala permasalahan dengan hati yang asyik bersamaNya. Hati yang telah ”asyik” selalu dapat menerima segala kemungkinan yang terburuk di dunia ini.

Saudaraku, jadikanlah hatimu bersih dan suci dari segala harapan, kecuali berharap hanya kepada Zat Allah SWT. Seseorang hamba yang telah mengembalikan hatinya hanya berharap dan bergantung kepada Tuhannya, maka sekali lagi dipastikan dia akan menikmati segala hal yang datang, sebab ia telah asyik menyaksikan wajah Allah SWT dibalik setiap yang datang dan yang pergi dari dirinya.

Saudaraku, sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyembunyikan diriNya daripada kita, DIA setiap saat selalu memberi isyarat akan kehadiranNya dekat dengan diri kita. Namun, lantaran hati kita masih dipenuhi dengan berharap kepada yang lain, hingga isyaratNya yang begitu jelas dan nyata tidak “terbaca” didepan kita.

Berdo’alah: ”Ya Allah, Ya Rabbi, jadikanlah kami hamba yang selalu bergantung kepada-Mu, hingga hati kami asyik dalam kedekatan-Mu, dan peliharalah hati kami dengan rasa rindu kepada-Mu, dan dampingilah setiap niat dan usaha kami dengan berharap dan bercita-cita kepada-Mu, serta sadarkanlah kami, bahwasanya Engkaulah satu satunya Zat yang paling dekat, hingga kedekatan-Mu melebihi dari apa apa yang dirasa oleh hati kami sendiri. Ya Allah, hanya Engkaulah yang mengasyikan hati hamba-Mu”

Sisi keshufian Sulthan Muhammad Al-Fatih

muhammad_al_fatihKalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).

Janji Nabi Muhammad SAW pun terealisasi oleh Sultan Muhammad al-Fatih setelah waktu berlalu lebih kurang 8 abad. Jangan lupa bahwa ada peran besar tashawwuf dalam penaklukan ini.

Belakangan mulai ada pengkaburan sejarah terhadap peristiwa penaklukan konstantinopel. Banyak yang menuliskan artikel terkait peristiwa ini tapi peran ulama shufi dan ke shufian Sultan Muhammad al-Fatih tidak disebut sama sekali. Padahal nuansa tashawwuf sangat kental mengiringi peristiwa bersejarah ini..

Shufi terbesar pada masanya adalah Syaikh al-‘Arif bi Allah dan orang yang sampai kepada Allah (al-Washil) ‘Aq Syamsuddin. Ketika Sultan (Muhammad al-Fatih) berkeinginan menaklukkan Kota Konstantinopel, ia mengutus seorang menteri untuk menghadap Syaikh Aq agar didoakan dalam peperangan. Kemudian Syaikh mendoakan dan berkata:

“Pada Tahun ini, Kaum Muslim akan merebut Kota Konstantinopel, yaitu pada hari al-Falani melalui benteng ini”.

Kemudian menteri memberi kabar gembira kepada Sultan mengenai perkataan Syaikh tersebut. Akan tetapi ketika waktu yang dikatakan Syaikh tiba, pintu gerbang benteng belum juga terbuka. Menteri itu datang kepada Syaikh untuk mengabarkan keadaan disana. Ketika Menteri datang ke tempat Syaik Aq Syamsuddin, ia melihat Syaikh sedang bersujud sambil menangis. Kemudian Syaikh bangun dari sujudnya sambil bertakbir. Lalu ia berkata: “Alhamdu lillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami kemenangan atas kota ini”.

Mendengar perkataan Syaikh tersebut, menteri langsung melihat ke sudut kota dan tampak pasukan kaum muslimin telah masuk ke dalam benteng. Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada Kaum Muslimin, diantaranya atas keberkahan dan doa dari Syaikh pada saat itu.

Sultan berkata: “Penaklukan kota ini tidak membuatku bahagia, tetapi aku bahagia karena pada masaku ini masih ada orang seperti Syaikh Aq Syamsuddin”.

Beberapa hari kemudian Sultan mengunjungi kemah Syaikh dan setelah mencium tangan Syaikh, Sultan berkata: “Kedatanganku ini adalah atas dasar keperluan denganmu”. Syaikh bertanya “Apa keperluanmu?” Sultan menjawab “Aku ingin ikut berkhalwat bersamamu beberapa hari”. Kemudian Syaikh berdzikir dihadapan Sultan dan ia pun mendengarkannnya.

Sultan juga meminta bantuan kepada Syaikh untuk mencari kuburan Abu Ayub al-Anshariy (Salah seorang Shahabat yang Syahid dalam upaya penaklukan Kota Konstantinopel jauh sebelumnya). Syaikh berkata: “Roh-ku telah bertemu dengan roh Abu Ayub, ia mengucapkan selamat atas penaklukan kota ini”. Kemudian Syaikh dan Sultan pergi ke suatu tempat dan Syaikh berkata: “Aku melihat cahaya dari tempat ini, mungkin makamnya ada di sini”. Kemudian Sultan menyuruh pengawalnya untuk menggali tanah itu. Kira-kira dua hasta terlihatlah batu yang bertuliskan Abu Ayub al-Anshariy. Selanjutnya Sultan menyuruh untuk membangun masjid disamping makam tersebut.

Pada masa itu, Tentara Utsmaniy merekrut para ulama dan pengikut tarekat untuk menghidupkan roh jihad dan semangat juang pada diri mereka. Sultan memasukkan mereka kedalam pasukannya adalah untuk mencari berkah dari mereka. Sultan sering berbuka puasa dengan mereka, karena ia memerintahkan mereka berpuasa. Sultan juga memerintahkan untuk memperbanyak shalat, berdzikir dan berdoa. Pada malam hari Sultan juga sering bersama para pengikut tarekat untuk ikut berdzikir, berdoa dan bertakbir.

Seluruh anggota pasukan Muhammad Al-Fatih adalah pengamal tasawuf. Sultan sendiri adalah penganut shufi Tarekat Naqshabandiyah. Tidak lain, beliau pelajari atau dapatkan dari ulama-ulama dizamannya, khususnya dari Syaikh ‘Aq Syamsuddin.

Sedangkan para anggota pasukan Turki Utsmani, khususnya pasukan Janissary yang merupakan pasukan inti adalah shufi Tarekat Bektasiyah. Adapun unit-unit pasukan lain, seperti Resimen Anatolia dan tentara irreguler hampir semuanya juga shufi dari berbagai macam Tarekat, seperti Thariqat Maulawiyah, Qodiriyah, Naqshabandiyah dan lain sebagainya.

Sultan Muhammad al-Fatih hidup tidak begitu lama (53 tahun). Kehidupan Sultan sangat sederhana, zuhud dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Dalam diri Sultan terpancar rasa cinta kepada para ulama, terutama kepada para sufi. Wasiat Sultan kepada anaknya: “ Hati-hatilah! Hati-hatilah! Janganlah kamu mencintai harta dan pasukan, tetapi bekerjalah untuk kemuliaan agama dan para Ulama ini”

Referensi :
Kitab Akhbar al-Duwali al-Qarmaaniy, Kitab Syaqa-iq al-Ni’maniyyah fi Ulama al-Dawlah al-Utsmaniyah dan kitab Shultan Muhammad al-Fatih.