Category Archives: Kolom Mursyid

TAK SATUPUN YANG HILANG

Tuanku

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Tak satupun yang menghilang dari diri…
Karena tiada satupun yang pergi darimu…
Hanya fatamorgana di bawah terik mentari…
Ibarat debu tertiup sesaat lewati harimu..

Cukuplah engkau penuhi jiwa dengan cinta..
Cukuplah engkau warnai rasamu dengan ridha..
Dengannya engkau terbang melampui batas rapuhmu…
Hingga segala kenyataanNYA selalu ada di balik apa yang engkau rasakan…

Maka engkau tak butuh yang lain selain Allah..
Sebab DIA lah mata air dari jutaan telaga jiwa…
Maka engkau tak butuh yang lain selain Allah…
Sebab DIA lah rahasia hati yang terindah dalam dirimu…

Hilangmu kan terganti, derita pun akan tertawa..
Tangismu akan terhenti, senyummu akan tercipta…
Sesungguhnya bagi dirimu punya Tuhan yang Maha Kaya asalkan hatimu masih percaya…

Rujukan dalam Membincangkan Perjalanan Ruhani

Kajian Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Bintaro, 11 Januari 2018

Sebelum membincangkan hal berkaitan dengan perjalanan spiritual, kita perlu mengenal tingkatan atau kapasitas seseorang yang menceritakan atau mengekspresikan proses-proses dalam menuju kepada Allah. Kapasitas ini menjadi dasar bagi kita untuk menjadikan pernyataan atau ekspresinya sebagai rujukan atau dasar pemahaman. Mengapa demikian? Karena, masalah spiritual ini menyangkut pengalaman rasa, bukan berdasarkan dalil atau nash yang makna dan kandungan hukumnya bisa diperdebatkan. Hal ini penting agar tidak terjebak pada penilaian dan sikap mempertentangkan di antara ungkapan para salik atau sufi. Sebenarnya, hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman rasa dalam menuju kepada Allah tidak patut untuk didiskusikan, terutama jika dilakukan dengan melibatkan pihak atau  tarekat yang lain, kecuali hanya kepada Mursyid sendiri. Berikut tingkatan orang bertasawuf:

  1. Salik yang baru sampai pada tahap merasa dekat dengan Allah.   Orang seperti ini seperti orang buta yang mengandalkan indra rasanya sehingga masih meraba-raba. Jika yang dirabanya itu terasa bulat, maka yang disangkanya itu adalah bola. Orang yang seperti ini tidak bisa ditanya atau dijadikan rujukan dalam kaitannya dengan kajian tentang masalah ketuhanan. Sebab, orang ini masih dalam proses. Apa yang dikatakannya lebih banyak berdasarkan nalar dari hasil bacaannya.
  2. Salik yang sedang berada pada zona antara perbatasan antara hati dan nurani dimana ia dilanda mabuk dalam luapan rasanya. Tahap inilah yang sangat berbahaya dan proses ini pun yang tidak dapat ditebak berapa lama waktunya, bisa sebentar, bisa lama, bahkan ada yang sampai tua atau meninggal. Dia masih dalam proses meluap-luap rasanya. Di posisi ini tidak sekadar merasa dekat, tetapi di sana bercampur rasa rindu atau cinta, tetapi belum sampai tahap menyaksikan.  Kalau orang seperti ditanya pendapatnya tentang masalah ketuhanan maka dia akan menjawab bahwa tuhan dan dirinya itu adalah satu. Ketika dikatakan padanya bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda, maka pasti dia membantahnya karena menurut pengalamannya bahwa Tuhan dan dirinya adalah satu, tidak ada bedanya. Dia akan mengatakan, “Dia adalah aku, dan aku adalah Dia.” Orang yang berada pada tahap seperti ini pun tidak bisa kita bantah atau lawan. Keadaan seperti ini banyak terjadi pada beberapa orang yang disebut mursyid. Banyak mursyid zaman sekarang, tahapannya baru sampai di sini. Kelemahan orang yang berada pada tahapan ini, jika tidak dibimbing dengan benar maka apa yang dikatakannya itulah yang dianggapnya benar (tuhan = hamba), tidak bisa ditaklukkan. Jika seorang mursyid baru pada tahap ini, maka bahayanya adalah semua yang dikatakannya akan ditelan bulat-bulat oleh muridnya. Tahapan ini dalam sejarah pernah dialami oleh al-Hallaj atau Syekh Siti Jenar. Makanya, Syekh Siti Jenar tidak pernah masuk dalam lingkup Wali Songo. Kita jangan salah paham dan menganggap Sunan Kalijaga atau para Wali Songo lainnya lebih rendah maqamnya daripada Syekh Siti Jenar! Padahal, yang benar adalah sebaliknya.  Mana yang lebih tinggi derajatnya antara al-Hallaj atau Syekh Abdul Qadil Jaelani? Tentu, yang lebih tinggi adalah Syekh Abdul Qadil Jaelani meskipun al-Hallaj dalam kisanya memiliki ungkapan yang menggambarkan dirinya telah menyatu dengan Allah, bahkan menyebut dirinya sebagai al-Haqq.
  3. Tingkatan seseorang yang telah sampai pada tahap penyaksian.  Tanda seseorang yang telah menyaksikan Allah, adalah dapat mengurai perbedaan antara benda dan bayangannya, mampu membedakan mana “AKU”nya tuhan dan mana “aku”nya hamba.  Dia akan kembali kepada makna kalimat syahadat, “Aku menyaksikan tiada tuhan selain Allah, dan aku menyaksikan Muhammad adalah utusan Allah”. Dia tidak akan terlepas dari syariat dan hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Kelemahan banyak pihak adalah menyangka bahwa orang yang merasa dirinya menyatu dengan Tuhan atau sebagai al-Hak lebih tinggi maqamnya dibandingkan dengan orang yang dapat membedakan mana Tuhan dan mana dirinya sebagai hamba. Atau, menganggap orang yang meninggalkan syariat karena merasa sudah sangat dekat dengan Allah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang yang tetap menjalankan syariat agama. Ini adalah anggapan yang keliru.

Sebenarnya, maqam tertinggi dalam bertasawuf itu adalah cinta dan tidak ada di atasnya. Kalau ada orang yang sampai pada tahap fana sehingga mabuk dalam rasa dekat maka sebenarnya itu adalah tahapan atau proses untuk menemukan cinta. Kalau sudah pada tahap maqam cinta, maka seseorang akan menemukan adanya yang mencintai dan yang dicintai, ada kamu dan ada aku. Kalau tidak dapat menemukan perbedaan itu, maka tidak akan ada cinta di sana. Makanya, dari awal sudah saya (Tuangku M. Ali Hanafiah) kunci bahwa cinta itu adalah maqam tertinggi, sehingga orang yang bertasawuf tidak boleh berhenti berusaha menuju kepada Allah sebelum ia menemukan cinta yang sebenarnya. Jika baru menemukan rasa dekat bahkan mabuk dalam perasaan menyatu dengan Tuhan, maka jangan berhenti, tetapi teruslah berjalan hingga menemukan cinta. Jika berhenti pada maqam mabuk dalam rasa dekat Allah, maka akan menemukan banyak jebakan dan godaan setan di sana.

Jangan kita terpengaruh dengan sensasi-sensasi dari syathahat seorang sufi, sebab orang itu masih berada di tengah-tengah perjalanan. Dia masih dalam proses menuju cinta kepada Allah. Sebenarnya, jika seorang salik berada pada tahapan mabuk dalam rasa dekat sehingga keluar ungkapan-ungkapan seakan menyatu dengan Tuhan, maka ia tidak boleh berada di tengah-tengah orang awam. Bahkan, jika ia adalah seorang mursyid maka tidak boleh muncul di depan murid-muridnya. Sebab, ini akan menimbulkan fitnah dalam agama, dan bisa menyesatkan murid atau orang lain yang melihatnya.

Itulah sebabnya, Allah Swt memerintahkan agar seseorang dalam berusaha kepada-Nya jangan menggunakan nafsu. Bagaimana cara menuju Allah tanpa menggunakan nafsu? Jika kita punya keinginan dekat dan cinta kepada Allah, bagaimana melakukannya jika tidak menggunakan nafsu! Padahal, nafsu itulah yang memiliki keinginan yang dapat digunakan untuk berusaha! Ini kelihatannya  sesuatu yang mustahil, sebab kehendak menuju kepada Allah itu sendiri adalah bagian dari keinginan nafsu.

Caranya adalah bermursyid, atau berguru kepada seorang mursyid. Jika seseorang sudah berguru, lalu mengamalkan apa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Mursyid maka ia telah terlepas dari kehendak dan keinginan nafsu pada dirinya. Itulah sebabnya, (jika ingin menuju kepada Allah tanpa bernafsu) wajib kita bermursyid. Kalau kita berjalan kepada Allah tanpa bimbingan seorang Mursyid maka itu 100% menggunakan nafsu. Namun, jika bermursyid maka apa yang kita lakukan itu menjadi tanggungjawab Mursyid. Jadi, jika ada kehendak kepada Allah dan itu merupakan hasil bimbingan Mursyid maka itu bukanlah kehendak nafsu kita, tetapi merupakan kehendak Allah melalui diri seorang Mursyid. Itulah sebabnya mengapa kita wajib berguru dalam menuju kepada Allah.

Tujuan dari berguru atau bermursyid adalah menundukkan ego. Prinsipnya, “Kalau itu sudah menjadi perintah guru, maka akan saya tempuh.” Kalau disuruh masuk ke api atau ke jurang sekali pun, jika itu adalah perintah guru maka seorang murid harus menempuhnya. Sebab, itu adalah perintah guru/mursyid meskipun di dalam diri sendiri ada keinginan untuk tidak melakukannya. Itulah salah satu fungsi baiat kepada guru, sebagai pertanggungjawaban Mursyid di hadapan Allah atas apa yang dia perintahkan kepada muridnya. Semua yang dilakukan murid jika atas perintah gurunya maka akan ditanggung oleh Mursyid. Berjalan menuju kepada Allah tidak bisa tanpa perahu, kita tidak bisa berenang sendirian kepada-Nya.

Ketika seseorang telah sampai pada tahap penyaksian dimana ia menyaksikan Allah maka dia sudah pasti akan jatuh cinta kepada-Nya. Mabuknya orang yang jatuh cinta berbeda dengan orang yang mabuk karena didorong oleh rasa dekat kepada Allah.  Mabuknya orang yang jatuh cinta, dia dapat membedakan antara dirinya di satu sisi dan Kekasihnya di sisi yang lain. Namun, jika mabuk karena rasa dekat, maka dia tidak dapat membedakan antara dirinya dengan Tuhan.  Karena itu, jika baru sampai pada tahapan mabuk dalam rasa dekat maka jangan berhenti tetapi teruslah berjalan hingga menemukan cinta setelah menyaksikan-Nya. Orang yang belajar tarekat tidak boleh lagi mundur atau berhenti di tengah jalan.

Orang yang baru sampai tahap mabuk dalam rasa dekat ibarat orang yang dapat memegang hidungnya tetapi tidak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Jika ujung hidungnya dicoret dengan ballpoint maka ia tidak dapat melihatnya, sehingga dibutuhkan orang lain yang dapat melihat coretan itu. Yang bisa melihat coretan itulah tugasnya Mursyid.

Yang paling penting adalah memperbaiki niat dalam bertarekat. Apa tujuannya bertarekat! Niatnya harus semata mencari ridha Allah. Dari niat baik itulah Allah akan menjaga kita. Jika kita sudah memiliki niat yang baik, maka jika dalam perjalanan kita tersesat, maka Allah akan memberikan petunjuk-Nya. Jangan pula takut tersesat selagi niatnya mencari ridha Allah, sebab banyak orang yang enggan bertarekat karena takut tersesat. Kalau pun tersesat masuk dalam satu kelompok, maka pasti ada saatnya Allah akan menyelamatkan. [ZA]

Doa terbaik

 

doa-terbaik

Berlaku adillah kamu, selagi ada kesempatan untuk berlaku adil, dan berlaku benarlah kamu selagi masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Dan berdoalah kepada Tuhanmu selagi engkau diberi kesempatan untuk berdoa, dan sebaik-baik doa adalah meminta agar selalu diberi kesempatan untuk berdoa.

Sebab di zaman ini telah banyak manusia yang kehilangan kesempatan untuk bermunajat kepada Tuhannya.
—–
Nasehat Mursyiduna
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani