Category Archives: Iman

Belum Tibakah Waktunya Hati Khusyuk dalam Berzikir!

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik [QS. Al Hadid, 56:16]

Ayat di atas menggugat status keberimanan kita, apakah masuk sebagai seorang mukmin atau belum. Indikator seseorang disebut mukmin tidak terletak pada penampilan semata. Bila seseorang telah bersyahadat, melaksanakan shalat, puasa, zakat, dan haji tidak serta merta menunjukkan bahwa ia adalah seorang mukmin. Sebab, tanda seorang mukmin yang sebenarnya adalah hatinya tunduk kepada Allah dalam setiap zikirnya. Zikir di sini tidak terbatas hanya pada pengucapan kalimat-kalimat tayyibah saja, tetapi yang terutama adalah adanya perasaan sedang di hadapan Allah.

Continue reading Belum Tibakah Waktunya Hati Khusyuk dalam Berzikir!

Siapakah Allah 1: Mengenal Sifat, Asma, dan Af’al-Nya.

Oleh Zubair Ahmad

Sifat Allah adalah sesuatu yang melekat pada zat-Nya, tetapi zat Allah tidak bergantung kepada sifat-Nya. Sifat-Nyalah yang bergantung pada zat-Nya, bahkan Allah menciptkan sifat-Nya sendiri. Allah berbeda dengan makhluk, karena makhluk itu bergantung kepada sifatnya. Contoh: zat gula bergantung pada sifatnya yang manis, dan jikalau ia tidak manis maka tidak bisa disebut sebagai gula. Manusia bergantung pada sifatnya seperti hidup, berakal, punya panca indra, dll, sehingga kalau ada sesuatu yang tidak hidup, tidak berakal, tidak punya panca indra, dll yang merupakan sifat manusia maka tidak bisa disebut sebagai manusia, mungkin kita akan sebut sebagai mayat atau bangkai. Begitulah, sifat Allah bergantung kepada zat-Nya, tetapi zat makhluk bergantung kepada sifatnya. Continue reading Siapakah Allah 1: Mengenal Sifat, Asma, dan Af’al-Nya.