Category Archives: Iman

Siapakah Kita 2 : Manusia Memiliki Ego

Oleh Zubair Ahmad

Egoiesme dalam pengertian bahasa adalah tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain. Atau, suatu sifat dimana sifat itu melambangkan satu kelebihan,kelalaian dan ketakaburan juga sifat tidak mau mengalah. Dan memandang kepada yang lain dengan kehinaan dan kekurangan dan juga ketidakpercayaan. Ego ini muncul dari nafsu/diri yang merasa memiliki sesuatu, atau memiliki rasa ke-Aku-an, padahal segala yang melekat pada diri manusia sejatinya adalah titipan dari pemilik hakikatnya, yaituAllah Swt.

Wahai Hamba-Ku: Seburuk-buruk  pendusta adalah egomu, yang menyatakan kepemilikan akan kepunyaan-Ku di dalam dirimu, dan tiada penipu yang lebih pandai dari pada akalmu sendiri, yang menjadikan engkau buta dari segala sesuatu yang Kudatangkan dan yang Kuambil dari dirimu. (TuangkuSyaikh Muhammad Ali Hanafiah, InilahAku,h. 15)

Kita seringkali menggunakan kata AKU, tetapi kita tidak kenal siapa itu AKUitusendiri. Kata AKU adalah mewakili rasa kepemilikan. AKU adalah hijab yang paling terakhir dan paling tipis, tetapi ke-AKU-an inilah yang paling berat untuk ditembus. Hal itu karena AKU yang sering kita sebut dalamkesehariankitaadalah mewakili ego kita. Namun, orang yang dapat mengurai dan berenang dibalik AKU itu, maka dialah yang dapat menemukan “AKU” sesunggunya, yaitu TUHAN. Namun, perlu berhati-hati! Orang yang sudah menemukan AKU dalam rasanya lalu merasa dirinya adalah adalah TUHAN, maka sesungguhnya ia adalah FIR’AUN. Di sinilahperlunya guru yang menjadi teman pendamping dalam berjalan menuju Allah.

Orang belajar hakikat tauhid itu ibarat orang sakit yang harus melewati masa-masa kritis. Dan masa yang paling kritis bagi seorang pencariTuhan adalah ketika ia berada dalam maqam “keAKUan”. Bila ia berhasil melewati maqam ini maka ia akan mencapai tingkat yang paling mulia, tetapi apabila gagal maka dia akan menjadi orang yang paling sesat (misalnya, merasa bebas dari kewajiban agama, atau menyebut dirinya sebagai tuhan itu sendiri)

Seseorang yang telah mengecil keakuan dalam dirinya, bahkan hilang keakuannya, maka orang itulah yang tersingkap tirainya, antara dirinya dengan Tuhan. Namun, dalam pandangan Tuhan, ke-AKU-an orang sebagai hamba tetap ada, meskipun dirinya merasa bahwa ke-AKU-annya telah hilang. Di sinilah seringkali seorang pencari Tuhan mengalami kegagalan.Ketika timbul perasaan bahwa keakuan dirinya telah hilang dan yang ada hanyalah ke-AKU-an tuhan, maka Ia menganggap bahwa Tuhan pun menganggap diri si pencari ini telah hilang, itu tentu tidak benar.Yang benar adalah bahwa orang yang telah menghilangkan rasa keakuan dirinya, maka akan merasa bahwa dirinya adalah benar-benar hamba yang butuh pada Tuhannya, benar-benar bergantung kepada Allah, dan karenanya mutlak berbakti hanya kepada-Nya. (Tuangku Muhammad Ali Hanafiah, Mukhatabah Ilahiyah, Tanggal 27 Juni 2008).

Pada materi pertemuan sebelumnya telah dibahas bahwa pada saat menciptakan kita, maka Allah meniupkan ruh-Nya. Artinnya, ruh itu milik Allah.Namun, ketika ruh itu dibungkus oleh akal dan nafsu, maka manusia mengambil alih ke-Aku-an Allah menjadi ke-aku-an dirinya.Keakuan manusia itu muncul dari akal dan nafsunya.

Sebetulnya, ke-AKU-an Allah itu telah ada di dalam diri kita, tetapi karena kita merasa ke-aku-an diri kita yang muncul, maka kita tidak akan menemukan keakuan Tuhan. Seorang ulama yang tidak mampu menghilangkan rasa ke-aku-an dirinya, akan kalah dengan orang awam yang mampu menghilangkan ke-aku-an dirinya. Orang yang diberi kemampuan menghilangkan ke-aku-an di dalam dirinnya atau berada pada titik nol adalah sesungguhnya telah berada di depan pintu gerbang rahasia Allah. Perhatikan Ilham Sirriyah berikutini:

Wahai Hamba-Ku: Hamba-hamba-Ku yang mempuasakan rasa kepemilikan dari pada dirinya sendiri, adalah hamba yang telah berdiri di depan pintu gerbang rahasia-Ku, dan bagi hamba-Ku yang memihak kepada kemauan-Ku maka demi apa-apa yang Kutinggikan, niscaya telah Kutempatkan ia dalam Mahligai Kerahasian-Ku. (TS. Muhammad Ali Hanafiah, Inilah Aku, h. 40)

Bagaimana memandang ke-aku-an Tuhan di dalam diri kita? Atau bagaimana menghilangkan keakuan dari diri kita, kecuali terasa yang ada hanyalah ke-AKU-an Allah?

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah mengajarkan cara untuk menghilangkan rasa keakuan diri dengan bersyukur atas apa yang diberikan Alla pada diri kita. Dengan rasa syukur itu, maka kita akan merasakan bahwa segala yang ada pada diri kita, termasuk harta, keluarga, jabatan, dll itu merupakan karunia dan ketentuan Allah. Dengan memperbanyak syukur, maka berarti kita secara pelan-pelan telah menghilangkan rasa kepemilikan kita atas apa yang kita terima, karena semuaitu akan terasa menjadi titipan Allah. Ini semua akan meningkat kualitas diri, sehingga akan memiliki rasa tawakkal dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Maka, tunjukkanlah rasa syukur itu walaupun nikmat yang didapatkan itu bagi orang lain tidak tampak.Syukur itu adalah perasaan untuk melihat keagungan Tuhan di balik segalanya, sehingga kesyukuran itu tidak hanya berlakupadasaatkita menerima nikmat dari Allah, tetapi juga terhadap sesuatu yang hilang dari diri kita. Karena, segala sesuatu itu adalah bukti kasih sayang Allah.

Rasa syukur itu dapat kita wujudkan melalui lisan dan perbuatan. Melalui lisan kita ucapkan pujian kepada Allah (alhamdulillah) atas segala karunia dan kasih sayang Allah kepada kita. Dalam bentuk perbuatan, kita wujudkan dengan ibadah kepada-Nya, dan memanfaatkan semua karunia itu kepada jalan yang dikehendaki Allah. Semakin kita bersyukur, maka semakin pula Allah limpahkan rahmat dan karunianya. Allah berfirman:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

Dan (ingatlah juga), tatkalaTuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim 14: 7)

Materi “Dialog tentangKetuhanan” di Masjid BaitulIhsan, Bank Indonesia, tanggal 23Desember 2011 ataskerjasama MMBI dan TICI.

Siapakah Allah 6: Maha Mengikhlaskan dan Meridhai

Oleh Zubair Ahmad

Sesungguhnya ikhlas itu adalah upaya mengarahkan keinginan dan harapan untuk meraih ridha Allah dalam melakukan sesuatu; keridhaan itu adalah kerelaan menerima apa yang menjadi ketetapan dan ketentuan Allah yang berlaku pada diri dan kerelaan melakukan apa saja yang dapat menyenangkan Allah. Ikhlas dan ridha itu sendiri adalah buah dari cinta kepada Allah. Hanya hamba yang memiliki cinta yang dapat ikhlas dalam segala pikiran, ucapan, dan perbuatannya; serta hanya orang yang memiliki cinta yang siap melakukan apa saja yang dapat menyenangkan Sang Kekasih dan menerima setiap ketetapan dan ketentuan-Nya.

Ikhlas menurut bahasa berarti membersihkan sesuatu dan mengaturnya, sedangkan menurut istilah adalah mencabut segala keinginan dan harapan dari dalam hati kecuali keinginan dan harapan kepada Allah Swt; atau mengosongkan hati dari ketergantungan kecuali kepada Allah sebagai satu-satu tuhan maha mengatur dan berhak untuk disembah. Inilah yang diajarkan di dalam surat al-Ikhlas:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

  1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
  3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dan memohon diberi tangguh oleh Allah hingga hari kiamat untuk membuktikan sumpahnya; dan Allah pun meloloskan permintaannya. Iblis mengakui bahwa kecuali hamba-hamba Allah yang telah ditanamkan rasa ikhlas di dalam hatinya yang tidak akan terlena oleh godaannya. Allah berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (orang yang diikhlaskan Allah) di antara mereka. (QS. Shad, 38:82-83)

Berdasarkan ayat tersebut di atas, keikhlasan sesungguhnya adalah bonus yang diberikan kepada orang yang telah berusaha mengosongkan hatinya dari rasa ketergantungan kepada dunia dan hanya semata-mata menggantungkan diri kepada Allah. Segala kemauan dan kehendaknya mengikuti kemauan dan kehendak Allah. Orang yang mampu melakukan hal ini hanyalah orang memiliki cinta kepada Allah. Artinya, keikhlasan adalah buah dari cinta ilahi itu sendiri. Perhatikan Ilham Sirriyah Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah berikut:

Wahai Hamba-Ku: Tanda yang utama bagi si pecinta adalah keluar dari pada apa-apa yang ia cintai dari kemauan dan kehendaknya sendiri, dan berjalan jauh dari pada apa-apa yang ia harapkan dari dirinya sendiri. Karena sesungguhnya pecinta akan selalu meletakkan dirinya kepada apa-apa yang mendekati kemauan dan kehendak dari pada Aku yang dicintainya. (Sastra Ilahi No. 46)

Perlu diketahui bahwa keikhlasan itu tidak memandang kecil atau besarnya sesuatu. Misalnya, menyumbang dengan uang seratus perak dengan menyumbang sekaligus dalam jumlah besar. Bila keduanya dilakukan sama-sama ikhlasnya, maka di sisi Allah, nilainya sama saja. Tentu saja,  besar kecilnya sumbangan itu sesuai dengan keterbatasannya masing-masing yang menyumbang. Shalat yang dilakukan lima kali sehari semalam merupakan pintu-pintu yang dapat memupuk keikhlasan yang dapat meningkatkan kualitas ruh kita. Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan Allah lainnya.

Ridha adalah kerelaan menerima ketentuan Allah, yaitu kerelaan melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, rela meninggalkan apa yang dilarang Allah, dan kerelaan apa pun yang menjadi ketetapan yang Allah berlakukan pada dirinya.

Orang yang rela menerima ketentuan Allah yang akan merasakan ketenangan dalam jiwanya. Seorang hamba yang telah mendulang cinta ilahi akan senantiasa menikmati surga di dunia ini berupa ketenangan jiwa, bebas dari stress, terlepas dari segala bentuk ketakutan, yaitu takut akan penderitaan, takut akan sakit, takut akan kehilangan, dan takut akan kematian. Menunut Tuanku Muhammad Ali Hanafiah, kerelaan atau ridha adalah buah dari cinta itu sendiri. Allah Swt berfirman:

۞لَّقَدۡ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ١٨

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Allah menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al-Fath/48: 18)

Alangkah indahnya sapaan Allah kepada kekasihnya yang telah mendapatkan cinta-Nya dan telah berbuah keridhaan atas segala ketentuan dan ketetapan-Nya.

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفۡسُ ٱلۡمُطۡمَئِنَّةُ ٢٧  ٱرۡجِعِيٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةٗ مَّرۡضِيَّةٗ ٢٨ فَٱدۡخُلِي فِي عِبَٰدِي ٢٩  وَٱدۡخُلِي جَنَّتِي ٣٠

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr/89: 27-30)

Surga adalah gambaran kenikmatan dimana tidak ada lagi sedih, tidak ada kesulitan, tidak ada penderitaan dan nestapa. Yang ada hanyalah kebahagian, suka cita, ketenagan batin, dan riang gembira. Inilah surga yang akan dinikmati oleh hamba-hamba yang telah mendapatkan cinta ilahi sehingga memiliki keikhlasan dan kerelaan terhadap apa yang datang dan pergi dari dirinya. Surga yang dapat dinikmati di dunia ini. Siapa yang tidak menemukan surga di dunia ini jangan berharap mendapatkan surga di akhirat kelak. Siapa yang tidak pernah mamndang Allah di dunia ini maka dia akan buta di akhirat untuk memandang wajah Allah yang maha indah. Siapa yang tidak merasakan kerinduan kepada Allah di dunia ini juga tidak akan mendapatkan pelepas rindu di akhirat kelak.

Ya Allah Terkasih dan Maha Pengasih, berikan pengetahuan tentang diri-Mu dan berikan cinta-Mu. Jagalah rasa penasaran terhadap keagungan dan keindahan-Mu. Jagalah harapan kami untuk hanya berharap pada-Mu.

Ya Allah Tersayang dan Maha Penyayang, Engkaulah harapan kami, Engkaulah tujuan kami.

Ya Allah Maha Dicinta, anugrahi kami keikhlasan dan kerelaan menerima apa yang menjadi ketentuan-Mu sehingga kami dapat merasakan surga-Mu di dunia ini.

Ajari kami cara terbaik untuk menyebut nama-Mu, ajari kami cara terindah membuktikan cinta pada-Mu, dan ajari kami cara yang paling Engkau ridhai dalam mengabdi dan bersujud pada-Mu.

Amin, ya Rabb.

Materi “Dialog tentang Ketuhanan” di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, tanggal 25 November 2011 atas kerjasama Manajemen Masjid Baitul Ihsan (MMBI) dan Tasawuf Islamic Centre Indonesia (TICI).

Siapakah Allah 4 : Maha Bersama Hamba-Nya

Oleh Zubair Ahmad

Salah satu pintu mengenal Allah adalah bahwa Dia senantiasa bersama dengan hamba-Nya. Kebersamaan dengan Allah digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid/57:4)

Kebersamaan dengan Allah (ma’a Allah) dengan makhluknya tidak pernah berpisah. Allah senantiasa meniupkan ruh sifat-Nya ke dalam diri manusia sehingga mereka memiliki secara nisbi kemampuan, kehendak, pengetahuan, kehidupan, pendengaran, penglihatan, dan kata-kata.

Kebersmaan itu tiada bercerai karena Allah meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya

أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. (QS. Fushshilat/41: 54)

Sifat al-Muhiith (Maha Meliputi segala sesuatu) mengandung makna bahwa pada setiap waktu dan ruang Allah hadir di sana, bahkan pada sesuatu yang tidak terikat oleh ruang dan waktu sekalipun juga diliputi oleh Allah.

Perhatikan ayat berikut:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 115).

Pada hakikatnya, timur dan barat tidak hanya milik Allah tetapi Allah meliputi keduanya. Maka, wajarlah kiranya bila ke mana pun kita menghadap maka Allah akan hadir di sana. Timur dan barat meliputi segala sesuatu, di mana pun kita berada akan ada selalu ada timur dan barat.

Dalam keberamaan dengan-Nya,  Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Pengawasan ini diungkapkan oleh baginda Nabi Isa a.s. dalam al-Qur’an:

كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Engkau-lah yang mengawasi mereka (al-Raqiib). Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah/5: 117).

Ingat, pengawasan Allah kepada hamba-Nya bukanlah pekerjaan untuk mencari-cari kesalahan hamba-Nya, melainkan untuk menjaga dan memeliharanya. Andaikan bisa dianalogikan dengan makhluk, pengawasan Allah kepada hamba-Nya mirip dengan pengawasan seorang ibu kepada anaknya. Seorang ibu akan selalu menjaga anaknya agar tetap dalam kebaikan, walaupun kadang-kadang terpaksa anaknya harus menangis karena dilarang oleh ibunya. Larangan sang ibu sama sekali bukan untuk menyakiti anaknya, tetapi untuk memastikan anaknya tetap dalam kebaikan. Walaupun ada banyak larangan Allah kepada hamba-Nya yang sering dipandang sebagai pembatasan kebebasan atau banyak perintah yang sering dianggap sebagai beban, namun semua itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya agar tetap dalam kebaikan.

Pemeliharaan Allah dapat kita baca di dalam al-Qur’an:

قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ

Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu). (QS. Al-An’am/6: 104)

Mari senantiasa merasakan kebersamaan dengan Allah dengan menyimak nasihat Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Qadiriyah (Guru Besar Tasawuf Islamic Centre Indonesia) sebagai berikut!

 Materi “Dialog tentang Ketuhanan” di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, tanggal 11 Nopember 2011 atas kerjasama Manajemen Masjid Baitul Ihsan (MMBI) dan Tasawuf Islamic Centre Indonesia (TICI).