Biografi Mursyid TQH

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar RabbaniTuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani atau yang akrab dipanggil dengan Tuangku Hanafiah adalah Grand Mursyid (Guru Besar) Tarekat Qadiriyah Hanafiah yang lahir pada tanggal 2 April 1976 dari pasangan Sudirman Anwar dan Lisda Ghalib berasal dari Padang, Sumatera Barat. Kakek dari garis ayah beliau bernama Anwar Ibrahim memiliki dua istri, Siti Sarah dan istri kedua bernama Siti Hajjar, dan daripada Siti Hajjar inilah lahir ayah kandung Tuangku Hanafiah. Secara silsilah nasab, Tuangku Muhammad Ali Hanafiah masih keturunan langsung dari Rasulullah Saw, dengan urutan sebagai berikut:

  1. Nabi Muhammad Saw.
  2. Fatimah binti Muhammad Saw dan Ali bin Abu Thalib r.a.
  3. Hasan bin Ali
  4. Hasan al Musanna bin Hasan
  5. Abdullah al Mahdi bin Hasan
  6. Musa al Junni bin Abdullah
  7. Abdullah bin Musa
  8. Musa bin Abdullah
  9. Dawud bin Musa
  10. Muhammad bin Dawud
  11. Yahya al Zahid bin Muhammad
  12. Abdullah bin Yahya
  13. Abu Saleh Musa Janaki bin Abdullah
  14. Sultan Auliya Syekh Abdul Qadil Jailani bin Abu Saleh
  15. Ahmad Musa bin Abdul Qadir
  16. Abdullah Quthub bin Ahmad Musa
  17. Muhammad Arif Billah bin Abdullah
  18. Dawud al Haqqani bin Muhammad
  19. Abdullah Jamaluddin bin Dawud
  20. Abdul Qadir bin Abdullah
  21. Ibrahim As Sumatrani bin Abdul Qadir
  22. Khairuddin Khatib bin Ibrahim
  23. Abdul Wahhab bin Khairuddin
  24. Ahmad Qasim bin Abdul Wahhab
  25. Abdullah Rahman bin Ahmad
  26. Muhammad Yusuf bin Abdullah
  27. Ahmad Nasir bin Muhammad
  28. Zainuddin bin Ahmad
  29. Ahmad Kuwat bin Zainuddin
  30. Ibrahim bin Ahmad Kuwat
  31. Anwar Ibrahim bin Ibrahim
  32. Sudirman Anwar bin Anwar Ibrahim
  33. Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah bin Sudirman Anwar.

Semenjak umur 12 tahun, Tuangku Hanafiah dan adik-adiknya telah kehilangan ayah yang meninggal dunia pada usia 40 tahun. Tuangku Hanafiah memiliki dua orang adik, salah satunya meninggal di usia muda. Sepeninggal ayahnya, Tuangku Hanafiah merasakan berbagai kegetiran hidup sehingga hampir membuatnya putus asa. Pada suatu malam, ketika itu sudah duduk di SMP, ia keluar rumah dan “menantang” Allah, seraya berkata, “Jika memang Engkau ada maka tunjukkanlah keberadaan-Mu malam ini! Apabila Engkau tidak menunjukkan diri-Mu maka mulai malam ini, Saya tidak akan pernah lagi percaya kepada-Mu!” Pada ketika itu juga, Allah menjawab tantangannya dengan sebuah kilat bertuliskan lafaz jalalah dalam bahasa Arab yang sangat terang walaupun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Sejak malam itulah, perjalanan ruhaninya dimulai.Sejak itu, Sultan Auliya, Syekh Abdul Qadir Jailani selalu datang secara ruhania memberikan bimbingan kepadanya.

Pada tahun 2002, Tuangku menikah dengan wanita berdarah Jawa dan Minang yang akrab dipanggil Ummi Ridha serta dikaruniai tiga orang putra, Muhammad Isa Rabbani, Muhammad Dawud Rabbani dan Muhammad Ibrahim Rabbani, dan satu orang putri yang telah meninggal dunia pada usia 2 tahun bernama Az-Zahra Putri Ar-Ridha.

Tuangku Hanafiah, telah menerima ilham langsung dari Allah SWT semenjak beliau berumur 17 tahun, ketika itu masih di kelas tiga di salah satu STM kota Padang. Dalam perjalanan spiritualnya, Tuangku Hanafiah sering mengalami peristiwa-peristiwa di luar nalar manusia, di antaranya beliau telah mengalami mati suri lebih dari tujuh kali, bahkan sempat dikubur selama 3 hari 2 malam dan sampai saat ini bekas kuburannya dijaga dan bekas pakaiannya disimpan oleh murid-murid Tuangku Hanafiah. Terakhir, beliau mengalami mati suri di saat beliau menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 2000.Berita kematian Tuangku sempat tersiar hingga terdengar oleh murid-murid beliau di tanah air.Namun, peristiwa tersebut hanya terjadi beberapa jam saja yang akhirnya melegakan perasaan keluarga dan murid-murid beliau.

Menurut Tuangku Hanafiah, sekalipun ratusan ataupun ribuan kalam ilham yang telah diterima Tuangku, maka tidak akan pernah menandingi keagungan Al-Qur’an, karena bagi Tuangku, ilham yang diterimanya hanyalah “Resep Qalbu” dari Allah SWT bagi kita untuk mencapai jalan yang lebih cepat menuju titik dekat bersama Allah SWT. Sedangkan Al-Qur’an dan Sunnah ibarat bahan dasar atau bahan pokoknya yang serta merta wajib dipakai bagi setiap pemakai resep tersebut.

Pada tahun 2002, Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah mendirikan Tasawuf Islamic Centre Indonesia (TICI) yang kini berpusat di Jakarta.Di tahun 2002, Tuangku juga membangun Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani di Solok, Sumatera Barat, sebagai pusat latihan ruhani (riyādah) bagi murid-muridnya serta orang-orang yang tertarik belajar tasawuf. Tuangku Hanafiah juga mendirikan berbagai macam usaha untuk meningkatkan perekonomian ummat, baik di bidang jasa, penjualan, pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan, yang semuanya dijalankan oleh murid-murid Tuangku dengan satu tujuan yakni, “Islam yang bersatu dan berbagi”.

Semenjak tahun 2000, kalam ilham sirriyah Tuangku Hanafiah telah tersebar di beberapa negara di antaranya, Irak, Iran, Arab Saudi, Uni Emirat, Mesir, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Afrika Selatan, Belanda dan sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Penyebaran kalam ilham tersebut dilakukan oleh murid-murid beliau sendiri yang berada di negara-negara tersebut diatas dan juga melalui kalam ilham yang telah dibukukan, seperti yang ada di tangan anda sekarang.

Sejak tahun 2004, Tuangku Ali Hanafiah bolak-balik ke Jakarta, khususnya wilayah Lebak Bulus, Jakarta Selatan untuk menyebarkan kalam ilham yang diterimanya. Kehadirannya di Jakarta merupakan inisiasi dari Ahmad Rahman, Ahli Peneliti Utama pada Balitbang Kementerian Agama RI, yang pada tahun 2002 melakukan penelitian tentang tasawuf perkotaan dengan objek tarekat Qadiriyah Hanafiah. Kalam ilham yang dikumpulkan dari hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan oleh Penerbit Hikmah, Mizan Publika tahun 2004 dengan judul Sastra Ilahi, Ilham Sirriyah Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah. Selanjutnya, buku tersebut diterbitkan ulang dengan beberapa penambahan oleh penerbit Rabbani Press pada tahun 2011 dengan judul Menyapa Rasa Para Pencari Tuhan: Hidangan Nurani Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiyah, dan pada tahun 2012 diterbitkan dalam dua bahasa dengan judul Inilah Aku: Hidangan Ruhani (Here I Am: the innermost inspiration). Saat ini, tarekat Qadiriyah Hanafiah sudah memiliki domisili permanen di Komplek Masjid Rabbani, Perumahan Puspitaloka, Bumi Serpong Damai, Kota Tangerang Selatan.