BAI’AT

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Berbai’at kepada Mursyid merupakan hal yang mutlak dilakukan berdasarkan hati yang ikhlas tanpa ada unsur paksaan ataupun kepentingan yang lain kecuali berharap ridho Allah SWT.

Bai’atnya seorang murid kepada Mursyid merupakan bukti kelapangan hatinya untuk dibimbing dan dibina oleh Mursyid, sebab berbai’at membawa ikatan ruhani yang lebih kental daripada ikatan darah. Bai’at merupakan peristiwa penting bagi seorang murid, dimana ia kembali terlahir secara ruhani. Dan setiap manusia pasti dilahirkan secara biologis namun tidak semua manusia dapat dilahirkan secara ruhani. Kelahiran ruhani merupakan awal manusia mengenal tujuan hidupnya dan belajar untuk mempersiapkan bekalnya menuju akhirat dan bertemu Allah SWT sebagai destinasi terakhirnya.

Bai’at tidak membatasi seorang murid untuk belajar dan menambah pengetahuannya kepada Mursyid Thariqah yang lain, selagi atas izin dan restu Mursyidnya yang pertama, namun terlebih dahulu ia harus menyempurnakan ilmu dan amalan yang diberikan Mursyidnya, sebab jika tidak maka permintaan bai’at terhadap Mursyid lain merupakan su’ul adab, menyalahi adab kepada Mursyid bahkan kepada pendahulu pendahulu Mursyid Thariqah sebelumnya. Dalam dunia Thariqah, adab merupakan pintu ilmu, jika murid tidak memiliki adab, niscaya sebesar apapun gudang ilmu didepannya, bila tidak menemukan pintunya, ia akan selalu berputar putar mengelilingi gudang tanpa pernah masuk kedalamnya.

Bai’at juga bagian daripada adab Mursyid kepada muridnya, karena seorang Mursyid wajib bertanggung jawab terhadap ilmu dan amalan yang telah diberikan kepada muridnya. Apabila seorang murid datang kepadanya lalu meminta untuk diambil bai’atnya, maka wajib bagi Mursyid untuk membuka hatinya menerima segala “kejelekan” dan “keburukan” yang tersembunyi didalam diri murid tersebut dengan hati yang tulus dengan rasa tanggung jawab yang tinggi kepada Allah SWT, maka karena hal tersebut seorang murid dilarang keras bersangka buruk kepada Mursyidnya, sebab akan menyebabkan terputusnya bai’at.

Seseorang yang telah mengambil bai’at kepada seorang mursyid, itu merupakan suatu bertanda Allah SWT telah memberikan jalan yang tercepat menuju diriNYA, dan murid tersebut mempunyai akses bathin kepada Mursyid Mursyid sebelumnya hingga sampai kepada ruhani Baginda Nabi Besar Muhammad SAW (golden chain). Maka hal demikian itu, murid tidak pantas bermain main atau menunda nunda dalam amanah dan perintah Mursyid, sebab dia sudah masuk dalam wilayah “Tarbiyah Allah” apapun yang terjadi merupakan perintah perintah Allah ta’ala yang tersembunyi dalam ucapan dan perintah Mursyidnya. Hanya Allah yang dapat menuntun seorang hamba sampai kepada diriNYA, melalui keikhlasan dalam menjalani perintah Mursyidnya, selagi perintah tersebut tidak menjauhkan dirinya dari Al qur’an yang suci dan Sunnah yang mulia Nabi Muhammad SAW.

APA ITU MURSYID?

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Sebagaimana sebuah lembaga pendidikan, Thariqah memiliki Guru atau pelatih yang disebut sebagai Mursyid, seseorang yang telah diamanahkan oleh Allah SWT melalui garis keturunan atau nasab dan sanad yang tersambung sampai kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemursyidan bukanlah sebuah jabatan karir yang dapat diraih dengan usaha atau kerja keras. Kemursyidan merupakan pemberian dan amanah Allah SWT kepada orang-orang yang sudah digariskan melalui nasab yang mulia. Setetes darah yang mengalir di dalam tubuhnya merupakan sebuah ketentuan Allah Ta’ala. Ia tidak dapat “dipesan” oleh yang punya diri, namun tidak semua yang memiliki nasab mulia yang dapat amanah menjadi mursyid. Ia seumpama emas yang tersimpan dalam batu, jika ia tidak diambil dari kedalaman perut bumi kemudian diolah dan ditempa menjadi emas yang berkilau, maka mustahil seseorang yang bernasab mulia akan diberikan amanah untuk menjadi seorang Mursyid. Tidak sedikit juga di antara pengamal Thariqah berlomba-lomba untuk menjadi Mursyid, lantaran berharap orang-orang sekitarnya memuliakan dirinya. Sesungguhnya kemuliaan datang bukan dari makhluk namun ia datang dari kehendak Allah SWT. Maka, adalah contoh sebuah penyimpangan bathin yang terburuk jika seseorang mempunyai sifat sifat tersebut. “Emas” yang masih dalam perut bumi hanya dapat diambil oleh orang ahli dalam “penambangan” spiritual, karena tanpa itu sebaik baik apapun “emas” tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang bernilai, sebab masih dibalut batu dan terpendam dalam perut bumi. Maka dengan menggunakan perkakas spritual, seorang mursyid akan melahirkan seribu mursyid baik dengan jalan bertemu langsung atau tidak, bahkan cukup hanya bersentuhan secara spiritual yang kuat dan terus menerus. Maka,  apabila proses “penambangan” itu berhasil menemukan dan membentuk “emas kemursyidan” maka seluruh “penambang” atau mursyid-mursyid yang sezaman akan mengetahui dan mengakui kadar emas kemursyidan tersebut tanpa mesti bukti hitam putih dari sehelai kertas ijazah.

APA ITU THARIQAH?

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Thariqah merupakan lembaga pendidikan ilmu tasawuf yang mempelajari dan mendalami metoda ihsan untuk menyempurnakan keimanan yang menjadikan kita mengenal dan mempraktikkan Islam yang kaffah (sempurna).
Thariqah yang benar akan melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak kepada Khaliq dan berakhlak kepada makhluk. Jika maksud berakhlak kepada makhluk adalah menebar kasih sayang dan cinta sekaligus menjadi pribadi yang bermanfaat di tengah-tengah umat, sedangkan maksud dari pribadi yang berakhlak kepada Khaliq merupakan pribadi yang memiliki tauhid yang kokoh dan sempurna, dan memiliki daya juang yang tinggi untuk membela nilai-nilai kebenaran yang datang dari sisi Allah Aza wajalla.