MUKHTABAT ILAHIYAH: MENGENAL ALLAH DENGAN RASA

Oleh: Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiyah Ar Rabbani

Masjid Rabbani, 17 Januari 2018

Assalamu’alaikum wr.wb.

Sesungguhnya Allah itu Mahabesar. Mahabesar di sini bukan dalam arti ukuran, karena banyak yang salah memahami bahwa Allah Mahabesar itu dalam arti ukuran. Selagi kita menganggap Allah itu besar dalam bentuk ukuran maka selama itu pula kita telah terhijab dari kedekatan dengan Allah. Besarnya Allah itu maha meliputi, Satunya Allah itu meliputi, Ghaibnya Allah itu meliputi, Kenyataan Allah itu meliputi. Segala  yang ada di dunia pasti ada yang nyata, yaitu Allah. Segala yang ada atau wujud , baik yang ada di mata, ada di telinga, ada di rasa  maka Allah meliputinya. Bahkan, ada sekolompok orang mengatakan bahwa alasan mengapa Allah tidak dapat dilihat adalah karena Allah itu Mahabesar. Karena mahabesar, maka kita tidak sanggup untuk melihatnya. Ini adalah cara berpikir yang sangat pendek. Padahal, untuk melihat kebesaran Allah, maka lihatlah kekecilan atau kekerdilan diri kita. Tidak perlu kita harus mencoba untuk membayangkan atau memcoba untuk mengumpamakan. Lihat  saja betapa kecilnya diri kita, betapa tidak ada artinya diri kita ini, tidak ada apa-apanya. Orang yang bisa memahami itulah yang dapat mengerti betapa besarnya Allah. Jadi, bukan mesti Allah itu diumpamakan sebagai sesuatu yang besar sehingga tidak bisa untuk dilihat. Atau, menganggap bahwa saking besarnya Allah sehingga kita tidak sanggup untuk melihat-Nya. Ibarat semut di ujung kaki kita yang mau melihat kita. Semut ingin melihat mata kita saja tidak sanggup, bahkan tidak tau mana yang mata kita karena saking besarnya. Ini adalah sesuatu perumpamaan yang bodoh dan salah kaprah.

Begitu pun tentang Ghaibnya Allah. Ghaibnya itu bukan berarti Allah menyembunyikan diri-Nya. Untuk apa kita mau mengetahui Allah padahal Allah itu mahaghaib, yang menyembunyikan diri-Nya dari makhluk. Atau, tidak pantas bagi kita untuk mengetahui atau menyaksikan Allah karena Dia Mahaghaib. Ghaibnya Allah bukan berarti Dia bersembunyi dari diri kita. Bahkan, para sufi mengatakan bahwa ghaibnya Allah itu merupakan cara Allah untuk membangkitkan gairah para kekasih yang mencari-Nya, untuk merindui-Nya. Ghaibnya Allah dari manusia bukan untuk menghijab, apalagi ingin menghalangi seorang hamba untuk mengenali-Nya. Malah, ghaibnya Allah itu untuk menimbulkan gairah bagi para perindu-Nya. Artinya apa? Hanya orang-orang yang rindu yang dapat bertemu dengan Allah, hanya orang-orang yang rindu yang dapat memahami tentang ghaibnya Allah. Orang yang hatinya tidak pernah merasa rindu kepada Allah, tidak akan pernah bisa memahami tentang ghaibnya Allah. Gaib itu tinggallah gaib baginya. Tetapi, bagi orang yang punya rasa rindu kepada Allah dan dia tahu bahwa Allah itu Mahagaib maka hal itu merupakan ujian baginya untuk membuktikan betapa besar rindunya kepada Allah. Dalam ilham sirriyah, Allah berfirman “Bukankah karena Akulah sehingga engkau dapat datang kepada-Ku. Aku yang berada pada rindumu.”

Bapak Ibu yang Allah rahmati.

Pemahaman seperti ini perlu kita pahamkan dalam diri. Berapa tahunlah kita akan hidup di dunia ini. Bukankah Prof Bambang baru saja kemarin kita duduk bersama beliau, baru kemarin kita melihat senyum beliau, baru kemarin kita mendengar tausiah beliah. Namun, beliau telah tiada dan meninggalkan kita. Waktu berputar terus, maka jangan sampai lengah. Silahkan pikiran berpikir tentang dunia, tetapi hati jangan sampai lengah. Jika kita bercerai-berai, maka itu sasaran empuk bagi srigala untuk memakan  dan memangsa kita.  Silahkan, gunakan akal tentang apa pun yang kita pikirkan di dunia ini, tetapi hati jangan sampai lengah. Hati yang lengah itu seperti apa? Hati yang putus zikirnya kepada Allah. Zikir yang dimaksud adalah zikir melalui rasa, bukan zikir lisan karena itu bisa terputus dalam 24 jam. Kajian tentang zikir rasa ini sudah kita kaji sebelumnya.

Bapak ibu yang Allah rahmati.

Saya akan mengulang kembali kajian kita sebelumnya. Apa yang saya sampaikan pada malam hari ini, seumur hidup jangan lupa! seumur hidup jangan lupa! seumur hidup jangan lupa! Andaikan lupa, andaikan lupa, maka tidak akan selamat. Pada sakaratul maut pun tidak akan selamat. Di akhirat apalagi.

“Sebaik-baik zikir adalah merasakan Allah, sebaik-baik merasakan Allah adalah menyaksikan Allah.” Namun, apabila kita tidak sampai dapat menyaksikan Allah, apa yang mesti kita rasakan agar hubungan kita tidak terputus walau satu detik dengan Allah? Kita disuruh shalat lima waktu. Apa manfaatnya sehingga Allah menyuruh kita shalat lima waktu? Bagi Allah tidak ada manfaatnya, tetapi bagi kita ada manfaatnya. Shalat lima waktu inilah yang mengajarkan rasa itu kepada kita, yaitu rasa sebagai budak di hadapan Allah. Itu saja yang perlu dimiliki. Kita tidak perlu bicara tentang merasakan hadirnya Allah, tidak berjarak dan tidak berperantara dengan-Nya. Cukup merasakan dalam batin kita, paling tidak, masih merasakan diri sebagai hamba Allah. Rasa sebagai hamba Allah inilah yang diasah dalam shalat waktu. Itulah kelebihan kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw, dimana kita diajarkan merasakan diri sebagai hamba dalam lima waktu sehari semalam. Itu adalah untuk kembali memasang niat, memperbaharui niat, menancapkan kembali bendera kehambaan di hati kita. Percuma kita rukuk dan sujuk jika kita selesai shalat tetapi tidak merasakan diri sebagai hamba di dalamnya. Bagaimana perasaan seorang budak? Kita dapat merasakan diri sebagai karyawan karena ada atasan, merasakan diri sebagai bawakan jika ada bosnya, tentu kita merasakan hambanya Allah karena kita yakin akan adanya Allah Sang Tuhan.

Bapak Ibu yang Allah rahmati.

Inilah yang harus kita bawa ke mana pun kita melangkahkan kaki di dunia ini, ingatlah bahwa kita adalah hamba-Nya. Hamba yang dikendalikan sepenuhnya oleh Allah. Kita tidak memiliki daya dan upaya, dari ujung rambut hingga ujung kaki bukan milik kita. Itulah hendaknya yang selalu kita ingat. Apa saja masalah yang datang datang, maka ingat bahwa kita adalah hamba. Apa saja ujian yang datang maka ingatlah bahwa kita adalah hamba. Itulah kekuatan kita yang sebenarnya. Di titik nol itulah sumber kekuatan bagi seorang hamba.

Semoga kita selalu diberikan bimbingan Allah Swt, jangan sampai kita tersesat, atau terhijab kembali. Karena, bagi seorang hamba yang telah menemukan suatu majelis yang membuat hatinya tersambung kepada Allah, atau paling tidak dia merasa nyaman ketika menerima kajian berarti itu adalah hidayah dari Allah pada dirinya. Maka, istiqamahlah di sana dan jangan bergeser sedikit pun. Sekali pun nanti ada angin badai, hujan batu, atau berdarah-darah, maka tetaplah berpegang teguh dan jangan bergeser. Sebab, setiap sesudah ada cahaya pasti ada gelap, dan setiap sesudah gelap akan ada cahaya di sana. Mudah-mudahan Allah satukan kita, satukan hati dan ruh kita, dihimpunkan di dunia dan di akhirat. Amin wal hamdu lillahi rabbil’alamin

Wassalamu’alaikum wr.wb. [ZA]

MUKHTABAT ILAHIYAH: BELAJAR DAN MENCARI KEBERKAHAN

Oleh: Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiyah Ar Rabbani

Masjid Rabbani, 17 Januari 2018

Assalamu’alaikum wr.wb.

Banyak orang yang belajar tasawuf di youtube dan internet merasa diri mampu memahami apa tasawuf itu. Memang, internet itu ada manfaatnya. Namun, manfaat itu justeru dapat membawa mudharat jika kita tidak tahu cara dan adab menggunakannya. Banyak di antara kita belajar tasawuf menganggap tidak perlu bertemu dengan seorang guru. Ada yang merasa cukup dengan menonton gurunya di youtube sehingga tidak perlu menjumpainya secara langsung. Padahal, tasawuf itu tidak hanya sekadar ilmu pengetahuan. Jika tasawuf itu hanya sebagai ilmu pengetahuan, maka cukup dengan baca buku atau membuka internet. Fenomena masyarakat kita saat ini sedang mengarah ke sana, terutama masyarakat perkotaan. Fasilitas orang kota lebih lengkap, sinyal untuk internetnya full, apalagi harganya murah. Dengan internet, mereka bisa menggantikan pertemuan dengan guru mursyid dengan menonton youtube dan mencari di Google. Ini merupakan cara-cara Dajjal untuk menutupi hati kita dari cahaya iman. Cara Dajjal untuk memutus hubungan antara murid dan guru. Sebab, apabila seorang murid atau orang yang berkehendak ingin mengetahui atau mengenal Allah lebih dekat maka ia harus bertemu dengan guru mursyid.

Bertemu dengan mursyid bukan hanya sekadar ilmu pengetahuan yang akan dia terima tetapi juga gelombang energi spiritual. Gelombang energi itu adalah gelombang yang dialirkan dan guru sebagai perantaranya. Gelombang energi itu bukan berasal dari guru melainkan berasal dari sumber energi, yaitu Allah dan turun kepada Rasulullah Saw sampai melalui pewaris-pewarisnya yang berhadapan dengan murid-muridnya. Bahkan, dalam banyak kitab-kitab tasawuf dimana tidak asing lagi kalau kita mendengar bahwa jika seorang murid bertemu dengan mursyid itu sama dengan mandi secara ruhaniah. Mandi dengan energi ketuhanan. Dan inilah yang sudah kurang ditemui di tengah-tengah masyarakat kita. Jangankan hal itu, penilaian kita tentang keberkahan sudah tipis, dan sudah tidak percaya lagi adanya keberkahan. Yang kita percayai adalah sesuatu yang bisa disentuh atau dilihat, tetapi lupa dengan keberkahan. Internet itu menghilangkan keberkahan, dan kajian yang didapat dari internet itu tidak membawa berkah.  Mau sebanyak apa pun yang kita baca di sana, tidak ada yang membawa berkah di sana. Sekali lagi, tidak ada yang membawa berkah di sana. Di sana telah bercampur antara yang hak dan batil. Kalau hanya untuk mendapatkan pengetahuan dan menambah wawasan, silahkan baca di internet. Namun, jika mau mencari berkah maka jangan di internet. Temuilah guru-guru kita! Datangi majelis-majelis dan langsung bertemu dengan para guru. Satu detik saja duduk bersama guru mursyid itu lebih baik daripada 24 jam menonton kajian-kajian di internet atau youtube.

Acara kita di Majelis Rabbani ke depan itu kan berkumpul dengan para mursyid, ulama, dan habaib. Kegiatan ini jangan diremehkan. Ambillah berkah di sana. Berkah itu bisa menjadi energi yang akan mengubah kehidupan kita. Bisa menjadi pintu-pintu rezeki dalam kehidupan kita. Bisa menjadi kesehatan untuk perpanjang umur kita. Keberkahan itu banyak, bergerak dan bertransformasi dalam mengubah kehidupan kita. Berkah itu bukanlah sekadar berkah yang kita pahami, tetapi ia merupakan energi yang mengubah dan mentransformasi pada diri kita, mencukupi apa yang menjadi kebutuhan dan kekurangan kita.

Malam ini kita ziarah rambut suci Rasulullah Saw. Keberkahan yang kita peroleh dari acara ziarah ini memiliki dampak yang berbeda-beda bagi setiap kita. Ia bergerak dan bertransformasi sesuai dengan kebutuhan dan apa yang menjadi kelemahan dan kekurangan pada diri kita masing-masing. Jangan dipahami bahwa berkah itu hanya terkait dengan duit atau kesehatan saja atau lainnya,  tetapi ia datang sesuai dengan apa yang kita butuhkan, atau apa yang menjadi sesuatu yang kurang dari diri kita saat ini.

Bapak dan ibu yang Allah rahmati

Silahkan membaca internet atau menonton youtube untuk belajar wawasan dan pengetahuan tentang tasawuf, dan kita tidak membatasi itu. Namun, jika ingin menambah berkah dan gelombang energi spiritual yang datang dari Allah, itu tidak mungkin bisa dengan internet. Maka, kehadiran seorang mursyd di tengah-tengah muridnya tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun di dunia ini dan sampai kapan pun.

Alhamdulillah, semoga pada malam hari ini, Allah bukakan hati kita dan tersingkap dari hijab-hijab, yang jauh dapat menjadi dekat, yang dekat bisa lebih menyatu dan rapat lagi. [ZA]

Kajian Metodologi Dakwah Lintas Agama Syekh Abdul Qadir Jailani

WhatsApp Image 2017-10-11 at 05.25.01

Tangsel-DUTI-DUTA, 25 September 2017M/4 Muharram 1439H
Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) dan Dewan Ulama Thariqah ASEAN (DUTA) bekerjasama dengan Markaz al-Jailani Asia Tenggara menyelenggarakan mudzakarah ilmiah dan muhasabah pergantian tahun baru Hijriah di Masjid Rabbani, Puspitaloka BSD, Tangerang Selatan (25/9/2017). Hadir sebagai narasumber utama adalah mursyid tarekat Qadiriyah ‘Aliyah, Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani al-Husaini. Dalam penjelasannya, Syekh Fadhil mengatakan bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak hanya seoarng tokoh dan pendiri tarekat, tetapi juga seorang ulama dalam berbagai disiplin ilmu. Ulama yang juga merupakan dzurriyat Syekh Abdul Qadir al-Jailani ini mengaku telah melakukan rihlah ilmiah ke seluruh dunia untuk mengumpulkan karya-karya beliau dan telah ditemukan lebih dari 100 judul buku yang masih dalam bentuk manuskrip. Beberapa diantara telah diterbitkan, salah satunya adalah Tafsir al-Jailani yang ditahqiq langsung oleh dirinya sendiri.
Syekh Fadhil mengatakan bahwa dakwah Syekh Abdul Qadir al-Jailani kepada non-muslim telah dicontohkan yang menekankan bahwa pada dasarnya esensi agmaa-agama itu adalah tauhid, keadilan, dan kesetaraan derajat umat manusia. Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajak kepada keaslian ajaran agama tersebut sehingga dapat diciptakan tatanan dunia yang damai dan penuh persahabatan.

WhatsApp Image 2017-10-11 at 05.18.23
Turut mendampingi Syekh Fadhil adalah Syekh Ali Badri selaku Direktur Markaz al-Jailnai Asia Tenggara, dan Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani yang merupakan direktur sebelumnya. Dalam sambutannya selaku Ketua DKM Masjid Rabbani, Habib Abdullah al-Haddad mengatakan bahwa persaudaran umat, terutama pengamal tarekat harus terus dikokohkan. Masjid Rabbani bersama DUTI siap untuk menfasilitasi kajian antar tarekat setiap bulannya. Sekjen DUTI, Dr. Zubair Ahmad juga menguatkan pandangan Ketua DKM Masjid Rabbani tersebut. Sekjen DUTI juga menyampaikan bahwa visi DUTI adalah untuk menghimpun para ulama tarekat dalam menjadi payung bagi para murid dan salik agar bersatu dan tak bercerai-berai.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh jamaah tarekat Qadiriyah Hanafiyah Jakarta, tarekat Idrisiyah Jakarta, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Kapuk Jakarta, dan beberapa pengamal tarekat lainnya. [ZA]

Sumber: dewanulamathariqah.org/id/