KEAKRABAN TUHAN DENGAN HAMBANYA

textgram_1522038854

Oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Tuhan adalah Zat yang kita yakini sebagai Pencipta alam semesta yang tiada batas, Maha Menguasai segala kekuasaan, menjadi sumber segala pengetahuan, sumber intuisi yang tertinggi dan menjadi keyakinan yang mutlak untuk dimiliki setiap manusia. Namun, apakah Tuhan yang kita kenal ini, mempunyai batasan-batasan yang tertentu untuk diketahui apalagi untuk didekati? Sungguh pemikiran yang dangkal jika Allah SWT disembah hanya dalam konteks pangkat ke-Tuhanan-Nya di dunia ini. Allah, sebagai Zat yang diyakini Pencipta dan sumber daripada segala kejadian, memang sepantasnya untuk disembah. Akan tetapi, apakah cukup bagi kita mengenal Dia hanya semata untuk ritual penyembahan, pengagungan, dan sebagai tempat pengaduan?

Tuhan tidak pernah membatasi keinginan hamba-hamba-Nya untuk mengenal dan mendekati Zat-Nya. Setiap saat Dia membuka diri untuk didatangi dari pintu mana saja. Ke-Tuhanan Dia di dunia ini bukan kabar petakut untuk membuat manusia sujud menyembah-Nya. Seharusnya manusia menjadikan Tuhan sebagai Zat yang akrab dengan sisi kehidupannya. Bukankah Tuhan Maha dekat (QS Qaf/50: 16), serta kehadiran kita di dunia maya ini adalah sebagai wakil-wakil-Nya yang diberi anugrah jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan kejadian makhluk lainnya. Dan mengapa kita harus menjadikan Tuhan sebagai Zat yang tabu untuk dijangkau. Walau Tuhan adalah Zat Yang Maha Tinggi, bukan berarti manusia tidak diperbolehkan untuk mendekati dan menjangkau-Nya.

Sangat primitif jika Tuhan diletakkan hanya di mesjid-mesjid dan tempat-tempat pengajian, sebagai komponen dalam ibadah tanpa ada sedikit kemauan untuk didekati dan dicintai. Ketahuilah, ibadah para nabi dan rasul bukan sekedar penyembahan belaka, namun lebih menjurus kepada bentuk keakraban hamba terhadap Tuhannya. Oleh sebab itu, benda mati yang dijadikan berhala pada masa itu, tidak sanggup menandingi kenikmatan para penyembah Allah SWT yang dapat menjalin hubungan akrab dan membuahkan keyakinan kuat yang tak gentar dengan kematian.

Ber-Tuhan adalah untuk dinikmati. Orang-orang yang ber-Tuhan seharusnya lebih tenang dan sejuk hati dan jiwanya (QS Ar-Ra’d/13: 28). Orang-orang yang mengaku ber-Tuhan semestinya merasa selalu diawasi oleh tatapan Tuhan, bahkan ia akan merasakan sekeliling diri dan lingkungannya merupakan mata-mata Tuhan yang mengawasi segala gerakan dan perbuatannya. Begitupun, orang yang mengaku dekat pada-Nya, niscaya ia selalu merasa berhadapan setiap saat dengan Tuhannya (QS Al-Baqarah/2: 115). Percayalah, keimanan yang kuat tidak akan dimiliki sebelum kita menyaksikan Allah SWT melebihi dari kenyataan sebuah bukit yang berada di depan mata. Maka, wajarlah bukit Thur Sina hancur di depan mata Nabi Musa as, karena kenyataan Allah SWT melebihi dari kenyataan sebuah bukit di depan mata.

Tuhan adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada makhluk ciptaan-Nya. Kecintaan-Nya melebihi dari Kesombongan-Nya, Kasih Sayang-Nya melebihi dari Amarah-Nya. Tuhan bagaikan Raja yang tinggal di setiap rumah rakyatnya. Dia mengetahui dan memahami apa yang terjadi di dalam setiap rumah rakyatnya. Dan Dia selalu dekat dan akrab dengan kehidupan rakyatnya. Raja yang bersinggasana dalam setiap rumah rakyatnya, tanpa kehilangan tahtanya sebagai raja.

Saudaraku, pandanglah Tuhan sebagai Zat yang akrab dalam kehidupanmu, sebab Dia-lah yang pertama mengetahui segala keluh-kesahmu, kebutuhanmu, dan segala kerahasiaanmu. Sewajarnya jika kita jadikan Tuhan sebagai Zat yang pertama untuk dikenali, didekati dan akhirnya untuk dicintai sebagai Zat yang lebih akrab di hati kita, daripada diri kita sendiri.

Ya Allah…jadikanlah kami hamba hamba-Mu yang memahami betapa dekatnya Engkau dengan apa-apa yang kami rasakan, dan tiada satupun huruf dan kata yg dapat menguraikan kedekatan tersebut, maka jadikanlah kami jua hamba hamba yg bukan sekedar berkata kata namun menjadi hamba yg sanggup menyentuh-Mu dalam setiap rasa yang keluar dari hati kami…supaya kami termasuk hamba hamba-Mu yang akrab dengan kasih sayang-Mu…..Amin Yaa Rabbal ‘alamin..

Al Qur’an dan Sunnah sebagai ukuran pengenalan

textgram_1520740837

Duhai murid-muridku dimana saja engkau berada

Kesedihan dan kesenangan yang berada di langit duniamu merupakan sebuah kesemuan apabila engkau termasuk orang-orang yang hatinya selalu dalam kebersamaan Tuhannya.

Duhai murid-muridku dimana saja engkau berada

Tuhanmu bukanlah sesuatu yang dapat engkau umpamakan dengan sesuatu diduniamu, DIA adalah Zat Yang Maha Tak Terjangkau kecuali bagi hamba-hamba yang menemukan sebuah kenikmatan dalam menghambakan diri kepada-NYA. Sebab rasa berTuhan denganNya hanya dapat dipahami dengan rasa kehambaanmu, semakin dalam kehambaanmu niscaya semakin tinggi dan besar ke-Maha-an Tuhan yang akan engkau temukan.

Duhai murid-muridku dimana saja engkau berada

Bersangka baiklah engkau terhadap kesusahan duniamu, karena kesusahan akan selalu mengingatkanmu kepada Tuhan, dan bersangka buruklah engkau terhadap kesenangan duniamu, sebab berapa banyak orang lupa dengan Tuhannya karena hanya sedikit kesenangan.

Duhai murid-muridku dimana saja engkau berada

Pakailah akal untuk mengenal duniamu, dan pakailah hati ketika engkau ingin mengenal akhiratmu dan cukuplah engkau pakai nurani ketika engkau ingin mengenal Tuhanmu, namun jangan lupa jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah sebagai ukuran daripada pengenalanmu.
———–
Nasehat Mursyiduna,

Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah al-Quthub ar-Rabbani, qs